Laman

Rabu, 08 Juni 2016

Air Mata Pelaminan




1.Hakikat Wanita

“Maha suci Allah yag telah meciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yag ditumbuhkan oleh bumi  dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS. Yaa Siin : 36)


  Seperti malam-malam sebelumnya, setiap malam jumat aku mengirimkan surah yasin untuk almarhum ibuku. Begitu juga malam ini, ketika aku baca ayat 36 surah yasin hati ini selalu merasakan getaran yang tak bisa kusimpulkan.

  Aku sangat paham ayat itu menjelaskan tetang setiap mahluk Allah memiliki pasanganya masing-masing. Aku pun yakin akan diriku.

“Kapan nikah?”

  Pertanyaan seperti itu acap kali aku dengar terlebih jika ada kumpul keluarga besar tak dapat dihindari lagi. Maklum aku gadis desa dengan lingkungan yang masih primitif. Biasanya perawan di desaku selesai sekolah menengah pertama sudah berdatangan pemuda yang melamar sedang aku? Hingga lulus SMA belum juga menikah.
Tak heran pertanyaan seperti itu sering menghampiriku.
Aku tak berkecil hati dengan pertanyaan keluargaku karena mereka sayang dan mengkhawatirkan masa depanku.  

***
  Sore ini di teras rumah kakek yang berlantaikan tanah sebuah bangku terbuat dari bambu dan meja papan rapuh usag termakan oleh usia. Cuaca mendung kabut menyelimuti gelap terlihat di awan, petir bersahut-sahutan, aku duduk di samping kakek ia menikmati pisang goring ditemani kopi hangat bikinannya sendiri.  

  Aku tinggal  berdua dengannya digubuk ini, gubuk berukuran sagat kecil hanya ada kamarku kamar kakekk sepetak ruang tamu yang tak memiliki meja kursi serta dapur, ia suka sekali mengolah makanan dari hasil pekarangan belakang rumah. Ada singkong, pisang, ubi talas, jincau, nanas banyak macam tanaman yang ia rawat dan kelola seorang diri sebagai kesibukan setiap harinya.

  Seja pagi hujan gerimis tak berhenti-berhenti. Musim penghujan seperti ini bisa hingga keesok hari hujan begini. Aku pandangi wajah kakek yang semakin menua wajahnya nampak guratan namun tenaganya masihlah segar bugar itu ia buktikan dengan kegiatannya bercocok tanam bahkan mencari kayu bakar di semak-semak belukar.  Ia tak mau kubantu semua aktifitasnya sekalipun mencuci baju. Semua ia lakukan sendiri.
Lalu apa tugasku? Akan kuberi tahu kepada kalian apa tugasku tinggal bersama kakek di gubuk itu agar kalian tahu. Tugasku hanya belajar dan semua yang berurusan dengan kegiatanku sendiri.

  “Ta, kamu kan sudah lulus sekolah, ada baiknya lamaran Fauzi anak juragan kopi itu kamu terima. Sejak lama bapaknya menanyakan tentang itu kepada mbah. Mbah ini sudah tua dan dituakan di desa ini, enggak enak menolaknya. Kamu paham itu?” 


  “Mbah, mala mini kita mau makan apa? Biar Rita yang masak. Tapi ajarin apa bumbunya yam bah.”

Begitulah caraku mengalihkan pembicaraan yang berkenaan dengan pernikahan. Sudah sangat sering si mbah membahas lamaran anak saudagar kopi di desa kami itu. Sampai bosan aku mendengarnya. Aku tinggalkan mbahku sendirian berlalu ke dapur untuk mecari kesibukan menyiapkan makan malam kami berdua. Walau pun sampai dapur aku sendiri bingung apa yang harus aku kerjakan sekedar menyalakan tungku kayu bakar pun aku tak pernah berhasil.
Aku berdiri dan terpaksa mendekati  mbah yang asyik menghisap kereteknya.

  Lama aku berdiri di sampingnya mematung diam tak bersuara mengumpulkan keberanian, untuk menyapanya. Aku tak mau ia membahas perihal lamaran Fauzi.
Mbah sudah mengendus kedatanganku ternyata.

 “Gak bisa nyalakan tungku?” Ia berdiri menuju dapur.

Aku mengikutinya dari belakang.

“Kamu itu harus belajar masak, harus bisa mengusai dapur!” 

Tak berapa lama tungku sudah menyala bara dari kayu bakar. “Hebat,” gumamku.  

“Wanita itu sehebat apa pun dia, sepintar apa pun tetap hakekatnya kembali ke dapur.” 

   Aku mengangguk, seraya berajak mencuci beras dan menyiapkan sayuran yang akan aku masak.
Ah, alih-alih meninggalkan mbah sendiri dan berusaha menghindarinya kini ia duduk di kursi kayu yang ada di dapur. 

“Ta, mengapa kau tak pernah merespon setiap kali mbah ajak bicara soal lamaran itu? Mbah malu kepada tetangga! Apa kata mereka melihat cucu kesayangan mbah belum menikah. Mbah malu, Saudagar itu sangat menghormati mbahmu ini. Kurang apa Fauzi itu? Dia pemuda baik-baik, sholeh pula.”

  “Aku masih ingin meneruskan sekolah.”

Malas rasanya menanggapi hal itu. Untuk sekolah pun aku tak punya biaya! Di rumah setiap saat dicekoki dengan menu lamaran anak saudagar kopi. Ingin rasanya aku kabur dari rumah tapi kemana? Semua sahabatku sudah sibuk dengan urusan mereka. Ada yang meneruskan kuliah di Jakarta, Jogja, Surabaya. Iya! Mereka anak orang kaya.
Aku, bisa sekolah sampai SMA saja sudah sangat bersyukur. Sakit rasanya setiap hari mbah membicarakan itu lagi dan lagi. Atau aku bunuh diri saja agar tak ada masalah?

   “Tidak! Jangan lakukan hal bodoh itu Rita! Kau harus cari cara agar keluar dari belenggu ini, Kau dengar?”

Aku mencuci beras yang akan kutanak itu. Pikiran terus mencari jalan untuk mengatasi situasi sulit ini.

“Hmmmm,” kuhempaskan napas dalam.

Aku berdiri meletakkan panci penanak nasi di atas tungku. Kulirik mbah masih saja duduk sambil menghisap rokok sesekali memperhatikanku.

Semua aku kerjakan sendiri tanpa bertanya pada si mbah dengan keterbatasan pengalaman di dapur aku berusaha aku tak ingin karena pertayaan kecil mbah memulai percakapan perihal lamaran, sungguh itu sangat membosankan.
Dapur ini terasa sempit jika kami berdua berada di dalamnya secara bersamaan.

“Mbah, ke depan sana. Nanti kalau aku sudah selesai akan aku panggil untuk makan.”

  Selain sempit sebenarnya yang utama mengalihkan perhatian mbah agar tidak mengungkit pembicaraan tadi.

 
**** 

Tugas KMO pertemuan ke-4
www.kmoindonesia.com 

Dengan pemateri bu www.ernawatililys.com

 

Tidak ada komentar: