Laman

Senin, 14 April 2014

Langkahku Menuju Satu Titik


Akhirnya penat ini menghampiri, aku kehilangan tujuan hidup berjibaku dengan keadaan kian tak menentu namun aku tak mau kehilangan Engkau ya Rabb.
Selamat tinggal masa lalu, selamat tinggal semua yang pernah aku lalui begitu pula masa silam aku ingin terbang tinggi bersama mimpi yang pernah aku kubur dalam aspal kini menjulang dalam angan kian melambung menghantarkan dalam rangkaian daftar kehidupan yang kusiapkan.

  Aku bangkit untuk meraihnya, succes menyingsing hari esok nan cerah secerah embun pagi yang suci, aku pun sibuk menyingkirkan aral yang melintang.
Tak ada orang yang mendukung aku tidak akan peduli, asal Allah bersamaku.
Orang bilang: Memang bisa kau mencapai kesuccesan, siapa yang akan membiayai sekolahmu?
Jika kuteringat kalimat itu perih dan tersayat hati ini. Apa pedulimu menanyakan hal itu yang akan mematahkan mimpi-mimpiku menambah keterpurukan menakuti bak hantu malam kian mencekam.

  Dengan keyakinan yang tinggi aku melangkah pergi, jiwa sepenuhnya mendapat kebebasan memilih jalan hidup yang aku lalui. Meningalkan negri tercinta demi sebuah cita-cita.
Yah! Aku pergi untuk kembali. Mencari sesuap nasi dan sebungkah berlian.
“Kemana aku harus pergi?” tanyaku ketika aku dalam kebingungan kala itu.
“Jepang, Taiwan atau Korea?”
Mungkin sepeda miniku bisa menghantarkanku ke Negara seberang, karena aku tau tak satu sen pun uang yang aku miliki. Atau perahu kertas bisa aku tumpangi? Agar bisa berlabuh di salah satu Negara tersebut.

  Tak juga nampak apa yang kucari. Dihadapanku bukan sebungkah berlian melainkan  pasien-pasien yang menunggu uluran tanganku agar aku bisa membantu merawatnya.
“Well… ini langkah awal menuju cita-cita itu mungkin,” hiburku dalam hati.

“Lakon apa yang sedang aku perankan?”
Tak jarang hati mulai bertanya pada sang maha kuasa.
Man shabara dzafira Rita, ketika aku mulai kehilangan kesabaran hanya kalimat itu yang bisa menguatkan dalam kepenatan di tengah keramaian kota.  
  “Bisa kah kau bersabar demi masa depan?”
Baik. Aku akan bersabar, dan sabar itu tiada batasnya hingga maut menjemput walau itu terkadang sangat berat untuk mengaplikasikan dalam problematika kehidupan.

 Bertahun-tahun sudah aku berada di Taipei, Taiwan. Kurasakan kembali suasana yang aku rindukan. Suara kicauan burung di pagi hari, bau khas pembuatan gula aren tetanggaku tidak jauh beda dengan aroma bubur kacang ijo yang sering menipu panca indra penciuman.
Menyapu sekitar halaman rumah  almarhum kakek angkatku dengan tidak menggunakan alas kaki alias nyeker.
 Aku merindukan masa-masa ini. Duduk bersama kakek, mendengarkan kisah-kisah jaman penjajahan. Ah, namun itu tak akan terulang karena kakek sudah meninggalkan aku untuk menghadap sang kuasa, rumah kakek pun sudah dijual oleh anaknya.
Semoga engkau bahagia di sana kek, walau aku bukan cucumu engkau menyayangiku dan aku belum sempat membalas budi baikmu hanya do’a yang bisa kuberikan. Semoga Allah memberikan kasih sayangNya, memberikan tempat seperti dulu engkau memberiku segalanya.

 Ah, siapa sangka aku yang dulu sering memotifasi adik-adik didikku saat aku mengajar pramuka di SD dan mengajar les private di daerahku, kini menjadi rapuh. Mudah terhempas oleh angin tatkala aku mulai merindukan orang-orang yang menyayangi dan mengasihi telah meninggalkanku.
Aku malu kepada diriku sendiri. Namun aku memaklumi karena aku hanya wanita biasa, jangankan aku, seorang motifator  handal saja tidak akan ada bisa bertahan  jika menghadapi suatu masalah dalam hidupnya sendiri.

 Aku menatap langit yang tak berhenti berawan itu artinya aku tak boleh putus asa dengan keadaan.
“Ayo bangkit…bangkit…bangkit. Tak ada yang tidak mungkin di dunia ini!”
Tahun ini pun datang masa dimana aku harus meninggalkan Negara ini, namun mereka mengharapkan aku tetap melanjutkan untuk bekerja di sini dengan menjanjikan fasilitas hidup serta tunjangan gaji yang lebih baik lagi.

 Aku benar-benar pasrah dengan keputusan Allah. Aku sujud, menundukkan diri dengan kerendahan hati. Akankah Engkau memberi yang terbaik untuk hidupku, masa depanku ya Rabb. Ataukah Engkau memiliki jawaban lain selain aku harus meneruskan kehidupanku di Taiwan ini?
Aku masih menunggu jawaban itu hingga bulan September, iya aku harus sabar.
Man shabara dzafira Rita! Aku benar tersentuh dengan skenario-Nya. Begitu indah jalan hidup yang Dia berikan kepadaku. Allah menghadapkan dengan segala yang tidak aku inginkan, membuat aku sering bertanya-tanya, apa maksud Allah menciptakan semua ini untukku.
Namun aku yakin ada hikmah dibalik semua ini yang bisa aku petik kelak suatu hari walau saat ini aku belum bisa merasakan hikmah apa kah itu.
Bukankah Allah maha bijak, Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa-apa yang kita inginkan.
Serangkaian kehidupan yang aku jalani ini hanya cara Allah untuk menghantarkanku di suatu titik yang aku sendiri belum tau titik mana aku harus berhenti yang Allah kehendaki.

 Ya Rabb, di titik mana pun Kau letakkan diri ini satu yang kuharap dariMu jangan pernah Engkau melepaskanku dalam kegelapan seorang diri tanpaMu.
Bimbing aku selalu di JalanMu, Beri aku kesabaran dan kekuatan untuk bisa menggapai kerhidoanMu dan berada di syurgaMu yang kekal dan abadi.
Do’a yang sama teruntuk seluruh kaum muslimin dan muslimah di dunia ini Aamiin ya Rabb.