Di depan rumah warga. Hujan turun lebat sekali seolah ia berlari mengejar cita~cita. Seakan ia bergegas menemui seseorang tuk dijadikan pendamping hidup. Jangan sampai salah langkah!
Hujan. Membasahi jalan berlubang, kering dan bebatuan.
Air. Menawarkan bait~bait kesejukan namun menjadikannya becek, licin yang mengancam keselamatan pengguna jalan.
Air pula kemudian menyeka jalan yang tak terjamah perhatian pemerintah.
Tempias hujan membasahi jalan bungkam. Hanya menatap pasrah.
Menciptakan butiran embun seolah ia akan berkata, "wahai sang penguasa, kapan kau akan benahi jalan ini?"
Jalan. Hanya bisa menerka mungkin esok atau lusa sang penguasa akan mengucurkan dana.
Waktu. Detaknya mengulirkan tawa. Detik, menit dan jam hanya menjelaskan apa yang terjadi di negri ini. Penguasa sibuk berebut tahta dan harta negara.
Lampung Timur, 06 Oktober 2016
#KamisRomantis
#SajakCintaDariDesa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar