Laman

Kamis, 26 Mei 2016

Dengan Menulis Aku Bisa Bicara Pada Ibuku



Terlahir dari keluarga bahagia, ayah pebisnis kayu dan ibu seorang pedagang sembako kehidupan keluarga kami sangat berkecukupan pada masa itu. Aku anak ke 3 dari 3 bersaudara bisa disebut anak bungsu.

Sudah pasti aku dimanja oleh kedua orang tuaku dan kakak-kakakku. Namun itu tak berlangsung lama setelah Ayahku jatuh bangkrut dan Ibuku meninggal dunia karena melahirkan adikku.

Kehidupankku berubah drastis… Dulu aku yang periang, manja dan lincah berubah seketika, dunia seakan berubah tak lagi tempat untuk bermanja ria, aku merasa tak punya siapa-siapa.
Kami empat bersaudara sudah berpencar ketika aku masih duduk di bangku SD diasuh oleh paman. Ayah? Ayahku sakit keras mungkin ia sangat terpuruk kala itu…. Entahlah mulai saat itu aku tak pernah bertemu dengan Ayahku.

Di sinilah aku mulai mengenal tulisan, di rumah pamanku aku merasakan kesepian tinggal di tempat yang sangat asing bagiku, hidup sederhana.
Apa pun aku tak pernah ada keberanian untuk mengutarakannya. Aku hanya berteman buku dan polpen, merekalah sahabat setiaku setiap waktu.

Ibu….
Aku rindu pelukanmu
Aku ingin bermanja-manja denganmu

Ayah….
Sehatkah engaku di sana?

Kakak,
Aku merindukan kalian

Adek…
Engkau yang masih bayi,
Aku ingin menggendongmu,
Menciummu
Aku ingin sekali mengenali wajahmu.


Ya Rabb ….
Aku sangat merindukan mereka, Apa kabar mereka yang entah dimana?

 Setiap kali aku merindukan wajah-wajah mereka aku hanya bisa memejamkan mata dan membayangkan mereka hadir di hadapanku setelah itu aku meluapkan dalam buku harianku. Iya,rasa itu….
Rasa dimana aku bertemu mereka, berpelukan dan mengatakan bahwa aku sangat merindukan mereka.
Hingga penuh buku ku dengan puisi-puisi luapan curahan hati ini.

****


 Saat MTs dimana aku sekolah, bukan aku yang menginginkan masuk di sekolah itu namun pamanku yang mendaftarkan aku sekolah berlatar belakang agama walau bukan pesantren. Alhamdulliah seragamnya berhijab.

Suatu ketika di sekolah kami mengadakan acara isro’ mi’roj kebetulan aku pengurus OSIS dan menjadi panitia acara tersebut dan diberikan kesempatan untuk menjadi MC juga pengisi acara aku pun membacakan puisi hasil karyaku sendiri lebih tepatnya curhatan hati bertemakan Ibu.

 Waktu itu acara dihadiri para undangan dari instansi kecamatan dan juga wali murid, tiba-tiba aku naik ke panggung dan mendeklamasikan puisi para undangan hening dan banyak yang berlinangan air mata. Mungkin terbawa suasana karena aku juga sampai nangis kangen sama Ibu.
Terkadang aku ngiri melihat teman-teman sebayaku bisa bermanja-manaja kepada orang tuanya. 
Sedang aku? Aku hanya bisa memejamkan mataku jika ingin bertemu kedua orang tuaku juga saudara-saudaraku.  

  Sejak acara itu aku mulai rajin menulis puisi sebenarnya, ya itu tadi alasannya aku menulis agar ibuku membaca curahan hati anaknya.

Sudah dipastikan ketika ada acara di sekolah aku pasti tampil dengan puisi andalanku atau menjadi pemeran teater tapi dulu sangat sederhana tak sekeren saat ini main teater di sekolah.

 Untuk mengurangi kesedihan dan rasa kangen keluarga aku mengikuti seluruh kegiatan di sekolah, aku sangat bahagia bila berada di antara teman dan sahabat-sahabatku. Merekalah yang membuat aku bisa bertahan, juga buku dan polpen sahabat sejatiku.
Sampai-sampai kemana pun aku pergi selalu ada rangkuman kecil di saku ku.

Alhamdullilah pas ada acara lomba siswa teladan tingkat kecamatan, aku ditunjuk untuk mewakili sekolahku.
Masih ingat betapa geroginya waktu itu, aku yang culun seragam yang lusuh sepatu sudah sobek, kaos kaki molor aku tali dengan karet gelang hanya bermodalkan restu dari almarhum ibuku melalui do’a, sebenarnya aku minder melawan perwakilan sekolah-sekolah ternama dan penampilan mereka keren.

Alhamdullilah atas ijin Allah, aku terpilih menjadi siswa teladan tingkat kecamatan setelah melalui serangkaian test salah satunya ada kategori menulis, saat itu aku menulis puisi bertemakan Ibu.  
Akhirnya aku pun melangkah mewakili kecamatan untuk pemilihan siswa teladan tingkat kabupaten. Hadiah dari kecamatan aku pakai tuk membali seragam baru, sepatu dan perlengkapan menghadapi acara di Kabupaten.

Alhamdullilah prosedur test yang hampir sama dengan di kecamatan hanya bedanya dewan juris semakin ketat dan akhirnya aku terpilih lagi menjadi siswa teladan tingat kabupaten Lampung Utara.

*****

  Waktu di SMA hampir lupa dengan menulis puisi, karena hampir semua kegiatan aku ikuti dari Paskibra, Pramuka – Saka Bakti Husada, PBB, Olahraga Volly, dan mendapat amanah sebagai wakil ketua OSIS  bahkan ngajar private adek-adek SD, SMP jadi sudah lupa dengan kegiatan curhat di buku harian apalagi menulis puisi hanya sesekali saja.
 Lebih suka menulis naskah pidato dan mengikuti lomba, alasannya sangat sederhana yaitu jika menang lumayan hadiahnya bisa untuk membeli peralatan sekolah karena saat SMA  sudah pidah dari rumah paman lebih mandiri lagi.

*******

Wahai Ibuku tercinta,
Cukuplah tiap kali kupejamkan mata dan berdo’a untukmu
Damainya pelukanmu sudah kurasakan
Restui aku anakmu dalam setiap langkaku

Kini …
Aku belum menemukan muaraku
Maaf  Ibu
Anakmu belum bisa membahagiakan

Kisahku …
Duniaku,
Lebih indah dari sinetron atau pun drama Korea
Dengan rasa cintaku padamu ibu,
Atas IjinNya
Ridhoi anakmu menjadi seorang penulis
Maka kuiklaskan diri ini untuk itu

Taipei, 26 Mei 2016
~Rita Secha~


 

Tidak ada komentar: