Bismillahirohmanirohim,
Dari mana aku harus menceritakan pengalaman hidup ini? Yang selama ini aku pendam, hanya ada 1 orang yang tahu karena waktu itu aku bener-bener sedang down dan butuh banget seseorang buat aku pinjami bahu sekedar bersandar dan bercerita tapi mungkin saat itu aku bingug aja. Namun kali ini aku bercerita semoga dengan pengalaman yang pernah aku alami ini bisa dijadikan bahan untuk bisa diambil hikmahnya dan hati-hati menjaga kesehatan. Bukan untuk mempublis rahasia pribadi dan meminta belas kasihan demi Allah bukan itu inshaAllah.
Akhir 2011
Aku berencana untuk pulang ke Indonesia untuk melanjutkan studyku yang sempet tertunda karena masalah biaya. Namun niat itu aku urungkan karena ternyata di Taiwan pun bisa melanjutkan pendidikan kita walau sambil bekerja.
Aku merasa bahagia bukan main karena cita-citaku untuk kuliah bisa terwujud, namun semakin ke sini aku merasa salah ambil jurusan, merasa kewalahan dan susah untuk beradaptasi. Istirahat kurang apalagi kalau dapat shift malam paginya harus ada ujian itu terkadang aku ingin menyerah saja, berkali-kali aku ingin keluar dari kuliah.
Namun beberapa temanku selalu memberikan semangat agar aku tetap bertahan.
Setelah ujian smester awal aku jatuh sakit, saat itu aku hanya berobat di klinik biasa dan konsultasi keluhanku yang sering lemas, pusing, sakit perut tak bertenaga…. Ah, biasa penyakit ringan.
Ok…. Done! Sembuh masih bisa melanjutkan aktifitas seperti biasa. Kuliah, kerja, organisasi dan kegiatan pribadi masih fine-fine aja.
Juni 2012
Kambuh lagi sakit kali ini udah gak ketahan, aku ganti dokter dan registrasi ke dokter yang bagus di RS aku bekerja Zhong Xiao.
Saat itu juga aku melakukan serangkaian test termasuk PAP SMEAR, USG dan kawan-kawannya.
Setelah hasil test nya keluar dokter mengatakan rahimku…. Oh no! saat kudengar penjelasan dokter dunia seakan runtuh, gelap dan darahku seakan seketika itu berhenti. Tapi aku berusaha tersenyum di depan dokter dan suster yang ada di sampingnya.
Sejak saat itu aku menjalani terapi 3 bulan sekali selama 1,5 tahun lamanya. Dan check up setiap 2 minggu sekali. Ketahuilah gais terapi apa aku pun tak begitu paham aku hanya bilang ke dokter yang menanganiku lakukan yang terbaik dan ketika terapi itu tiba sakitnya luar biasa rasanya badan kesetrum listrik terkadang tak ketahan aku pun menjerit karena merasa sakit dan panas yang luar biasa.
Dalam kurun waktu 1,5 tahun itu sejak pertama aku diponis…. (Aku gak mau sebutin itu lagi Semoga hanya aku yang merasakan jangan sampai keluargaku yang lainnya atau sahabat-sahabatku karena waktu itu dokter hampir nyerah menanganinya)
Tapi aku tetap punya keyakinan Allah yang akan menyembuhkan! Setiap hari aku berdo’a karena aku tau hanya do’a yang akan merubah segalanya. Setiap hari aku baca ayat-ayat suci Al-Qur’an dan menyediakan air minum setelah kubacakan yasin maka ku minum tak lupa kubaca bismilah setiap hari, setiap saat tak henti kuberdo’a Saat aku berjalan, saat aku belajar, saat aku kemana pun karena kita keluar dari rumah untuk mencari nafkah sudah termasuk ibadah maka di saat inilah do’a-do’a kita inshaAllah diijabah oleh Allah, setiap saat aku memohon agar Allah mengangkat penyakit yang kuderita hingga keakar-akarnya. Usaha manusia, dokter hanya 1% selebihnya hak Mutlak bagi Allah mau diapakan hambanya ini. Aku masih ingin hidup lebih lama lagi, aku masih ingin bermanfaat untuk sesama lebih lama lagi,…. Aku ingin memiliki keturunan yang sholeh dan sholeha.
“Ya Rabb, ampuni segala dosa hamba, Ampuni hamba jika semua keinginan hamba ini menjadi murkaMu Ya Allah, Jika memang sakit ini adalah kehendakMu agar hamba lebih dekat denganMu jika Engkau lebih ridho hamba hanya bisa pasrah jika Engkau ingin mengambil nyawaku. Namun jika hamba boleh memohon Ambillah hamba dalam keadaan khusnul khotimah dan ketika hamba telah kembali ke Indonesia. Dan jika hamba boleh memohon lagi ya Rabb. Sembuhkan hamba, berilah hamba kesempatan untuk bisa bermanfaat lebih lama lagi di dunia ini, beri hamba kesempatan untuk menjadi seorang ibu, Ibu yang bisa mendidik putra-puutri hamba mengantarkan mereka menjadi pejuang agamu, pejuang ibu pertiwi.”
2014 Awal
Setelah melakukan test lagi Alhamdullilah aku dinyatakan sembuh total. Sampek dokter yang menanganiku memberikan ucapan selamat dan bener-bener di luar kemampuan ku untuk berfikir.
Betapa aku bahagia Allah memberikan kuasanya. Yang selalu aku mohon saat kuberdo’a, “Tunjukkan kekuasaanMu ya Rabb, sakit ini datangnya dari Engkau dan aku pun yakin Engkau yang akan menyembuhkanku.”
Alhamdullilah sehat walafiat.
*************************
September 2015
Aku biasa setiap hari olahraga minimal 30menit terkadang senam kebugaran, renang, fitness, atau bersepeda keliling taman.
Sore itu aku senam dengan diiringi music Aerobik, saat sedang asyik-asyiknya senam.
Sengkriiiiiiing….! Bagian paha belakang terasa tergelincir dan sedikit nyeri.
“Waduh,aku sepertinya keseleo ini,” pikirku dalam hati.
Aku terus menggerak-gerakkan ringan ke depan, belakang dan samping. Namun tetap saja ngilu.
Malam harinya aku tempeli semacam salonpas tapi yang made in Jepang dikasih sama suster orang Taiwan teman kerjaku.
Namun sudah satu minggu tetap saja kurasakan sakit bahkan untuk jongkok atau mengambil sesuatu di lantai sakit. Dan rasa sakit itu semakin hebat tatkala aku datang bulan sakitnya menjalar di perut sebelah kanan bagian bawah.
#JLeeeeb…. (Pikiranku mengingat kilas balik 2012-2014)
“Waduh, Harus segera periksa ke dokter ini!”
16 September 2015
Aku langsung konsultasi ke dokter dan dokter langsung melakukan serangkaian test USG
“Udah 4 cm ini Ovarian Cyst, harus dioprasi Segera Rita,” katanya.
“Ada jalan lain selain oprasi dok?” Tanyaku.
Kenapa aku tidak langsung mengiyakan saja aku piker, aku masih muda dan belum pernah hamil masak iya rahimku mau diutak-atik walau pun aku tau peralatan di Taiwan ini serba canggih dan itu aku tau hanya oprasi ringan. Tapi …… (Perutku yang mulus ntar kesayat-sayat dong trus ada bekas oprasinya yeah jadi gak mulus lagi….. aih sakit juga masih mikirin bantuk tubuh. …Rita…rita….. )
Tapi bukan itu juga sih yang aku pikirkan. Aku masih punya Allah yang akan aku mohon lagi. Ini kan baru diagnosa manusia. Aku harus lapor dulu ke Allah.
“Dok, beri aku waktu paling lama 3 bulan ya,” pintaku.
“Jangan Terlalu lama nanti bisa pecah di dalam semakin bahaya! Jawabnya.
Dokter ini baik hati, ramah yang selama ini menanganiku aku merasa nyaman seakan punya dokter pribadi. Wajahnya teduh dan selalu tersenyum dan tatapannya menenangkan.
“Baiklah 15 Desember kamu balik lagi ke sini ya,” Pintanya.
“Baik dok,” Jawabku.
Diperjalanan pulang cuaca yang dingin, kali ini aku mendengar diagnose Ovarian Cyst 4 cm biasa saja tidak seperti ketika aku mendengar diagnose pada tahun 2012 kala itu.
Namun tidak dipungkiri aku wanita biasa yang punya sisi lemah cuaca yang mendung rintik-rintik hujan. Saat mustajab untuk berdo’a inshaAllah.
Aku biarkan badanku kehujanan, “Ya Allah… Lihatlah hambaMu yang lemah ini, berjalan sendiri di negri orang tanpa sanak-family menghadapi ujian demi ujianMu kuatkan hamba ya Allah. Genggam hamba, rangkul hamba selalu di jalanMu. Alhamdullilah hingga saat ini hamba masih merasakan nikmat yang Engkau berikan, masih bernapas Engkau beri kesempatan untuk hidup. Ya Allah tanpa kuutarakan Engkau pun tahu bahwa aku ingin sekali pulang ke Indonesia dan mengakhiri zona nyaman yang Engkau berikan ini. Aku hanya menunggu sebentar lagi agar kubisa menyelesaikan kuliahku ya Allah. Ya Rabb, jika Engkau berkenan hamba mohon kesembuhan jangan Engkau beri sakit yang hamba tidak kuat untuk menjalaninya, Jangan Engkau berikan penyakit yang akan memberikan pengaruh pada putra-putriku kelak. Jika Engkau ridho member kesempatan hamba menjadi seorang ibu yang melahirkan putra-puti yang sehat dan cerdas maka hamba mohon ya Rabb… bersihkan semua penyakit yang di diagnose oleh dokter itu dari seluruh tubuhku. Hamba mohon ya Allah. Ampuni hamba jika permintaan hamba ini menjadi murkaMu.”
Tak terasa aku berjalan pulang sambil bercucuran air mata. Sesampainya di Asrama aku mencari informasi seputar Ovarian cyst dan seakan bergerak sebisa mungkin, olahraga makanan semua kuperhatikan dan tak henti-hentinya aku berdo’a setiap saat, setiap hari karena aku berkeyakinan Allah maha segala-galanya.
15 Desember 2015
Aku hanya konsultasi ke dokter seputar yang aku rasakan dan kembali USG lagi kemudian ia memberikan resep obat dan menyuruhku kembali lagi tanggal 29 Desember 2015 jika tidak ada perubahan maka akan dijadwalkan oprasi pengangkatan Ovarian Cyst tersebut.
Aku masih memiliki keyakinan Allah akan mengangkat semua penyakitku. Setiap hari aku mengkonsumsi makanan yang disarankan oleh dokter just buah dan sayuran serta makanan yang hanya direbus tidak makan daging-dagingan, gorengan dan makanan yang mengandung lemak dan pedas semua aku hindari.
Tanggal 23 Deseber 2015
Aku mengalami sakit perut yang luar biasa seharian sampai gak kuat jalan bahkan ke kamar kecil pun aku berjalan membungkuk sambil memegangi perut karena sakit yang luar biasa. Aku hanya berbaring di tempat tidur kaki tak bertenaga gumpalan darah hitam keluar banyak dibarengi keringat dingin sejagung-jagung.
Hanya do’a yang menguatkanku, “Ya Rabb, Aku yakin Engkau sayang semua hambaMu… Jika Engkau cabut nyawaku maka cabutlah aku dalam keadaan khusnul khatimah. Jika permintaan hamba membuat murka bagiMu ampuni segala dosa hamba ya Allah.”
Setiap saat aku hanya mampu berdzikir karena aku sudah tak kuat lagi hanya terbaring di tempat tidur semua teman sedang bekerja dan aku tak pernah member tahukan sakitku kepada siapa pun.
Pas hari itu kalau tidak salah Bos Iwax ( mas Hendri lagi bahas pesanan Tshirtku) tapi aku gak focus menjawab messenger dari dia. Sampai aku ngetik balasan salah-salah. Karena memang aku sambil menahan sakit yang luar biasa.
24 Desember 2015
Masih sakit tapi tidak begitu hanya sesekali mules dan perut sebelah kanan kram (Sedut…slemet…slemet) kalau udah begitu gumpalan darah keluar lagi dibarengi keringat dingin sampek mringis-mringis rasanya.
“Ya Allah, mungkin ini kau uji hamba nanti ketika melahirkan seperti inilah rasanya.”
29 Desember 2015
Setelah melakukan USG Alhamdullilah
Hasilnya normal, Sempet melihat wajah dokter yang tersenyum dan mengakatan,
“Selamat, kamu luar biasa! Pasti kamu kesakitan ya.”
“Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Ibu, Ingin sekali aku memelukmu…. Betapa pegorbananmu begitu besar dulu ketika mengandungku, melahirkanku namun aku tak pernah diberi kesempatan untuk merawatmu. Engkau pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya ketika aku masih kecil dan belia.
Semoga Allah member tempat yang layak bagimu ibu, I realy love you.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar