Aku hanya
seorang wanita biasa yang mencoba untuk bahagia walau aku tau kebahagiaan itu
kita sendiri yang menciptakan. Bisnis yang kurintis mengalami masalah, tidak
serius namun cukup mengganggu konsentrasi studyku. Bagaimana pun itu modal yang
kupinjam dari kedua orang tuaku dan aku harus mengembalikannya. Baiklah! Aku
harus cari cara agar bangkit serta menggenjot laju bisnisku ini.
Setelah lulus SMA aku memang tak mau lagi merepotkan orang tuaku aku berusaha hidup mandiri walau kedua orang tuaku berkecukupan.
“Aku ingin mandiri yah, bolehkan aku meminjam modal untuk usaha?”
Kala itu ayah mencerca dengan berbagai pertanyaan hingga akhirnya ia memberikan pinjaman modal untukku.
Ah, begitulah orang tua walau banyak pertanyaan dan terkesan keberatan tetap saja mau memberi tanpa mengharap kembali.
Dari sinilah aku memulai kehidupan layaknya wanita dewasa. Aku rintis usaha sambil kuliah terkadang aku merasakan letih yang luar biasa hingga terkadang aku putus asa dan ingin kembali meminta kepada orang tua.
Ah! Dasar anak manja! Kapan kau mau berhasil jika mengandalkan orang tua? Ayo semangat. Kucoba menyemangati diri sendiri dalam situasi sesulit apa pun.
“Assalamu’alaikum.”
Suara di balik pintu rumah sewaanku, iya aku menyewa sebuah rumah kecil dekat dengan kampus dan dekat dengan tempat usahaku.
“Wa’alaikum salam,” jawabku sambil kubuka pintu.
“Eh kamu Wina, mari masuk.”
Wina memang berjanji datang malam ini untuk membawa temannya yang bersedia mengalihkan isi tokonya kepadaku. Menurut info dari wina ia akan menutup tokonya karena ia akan pindah ke luar kota. Entahlah itu tidak penting bagiku. Yang terpenting tokoku yang hampir mati bisa bernafas kembali dengan syarat tidak kubayar cash.
“Yen, ini kenalkan temanku yang aku ceritakan tempo hari,” Wina melirik ke arah temannya.
“Tio,” Sambil mengulurkan tangannya kepadaku.
“Yeni,” kusambut uluran tangannya.
Kami pun larut dalam obrolan seputar usaha dan jual beli. Hingga akhirnya mereka meninggalkan rumahku dengan membawa kesepakatan bersama.
*******
Alhamdullilah usaha yang kujalankan sudah memiliki 3 cabang di beberapa daerah modal pinjaman kepada orang tua pun sudah kubayar lunas tak terasa 2 tahun sejak Wina dan Tio datang membantu semua berubah, tapi entahlah kemana mereka? Mungkin sibuk dengan kesibukan masing-masing. Sesekali Wina masih menelponku tapi tidak untuk Tio.
kini kuliahku pun sudah memasuki tahap skripsi yang membutuhkan waktu serta konsentrasi ekstra. Aku pun tak begitu peduli dengan Aries kekasihku karena dia pun sibuk di kesatuannya. Iya, dia seorang TNI Kostrad AD yang bertugas di Surabaya. Sudah hampir 2 tahun kami pacaran namun belum ada kejelasan aku memilih menyibukkan diri dengan bisnis dan kuliahku.
Pernah suatu hari aku meminta putus darinya. Tapi dia tetap tak mau melepasku.
“Tunggulah sebentar lagi sayang, aku akan melamar ke rumah orang tuamu. Kamu tau kan saat ini bukan waktu yang tepat bagi kita. Tugasku belum selesai.”
Dia selalu memintaku untuk sabar menunggu. Aku percaya padanya karena dia adalah teman masa SMA aku pun tidak banyak merisaukannya aku tahu benar karakter pribadinya.
“Begitulah cinta deritanya tiada berakhir!”
Begitulah cinta terkadang kita dibuat gila namun tetap menikmati kegilaan itu. Bagiku Aries memiliki mahnet tersendiri aku tak bisa marah padanya meskipun berminggu-minggu tanpa kabar aku tetap percaya padanya apa yang ia lakukan pasti kegiatan positif.
*************
Hari minggu seperti biasa aku membereskan rumah kecil sewaanku setelah semua bersih aku mandi dan berdandan. Ingin pergi jalan-jalan melepas penat ke tepi pantai. Sengaja sebelum pergi aku siapkan makanan ringan serta alas tikar yang sudah tersusun rapi siap kumasukkan di bagasi mobil pribadiku.
Ting tong….
Bell pintu rumah berbunyi siapakah gerangan yang datang? Aku tak ada janji dengan siap-siapa hari ini. Ku buka pintu. Alangkah terkejutnya aku melihat kedatangan Wina, Tio dan 1 lagi kawannya yang tidak u kenal.
“Hi... Kemana aja kalian? Lama tak ada kabar!” Serbuku sambil kupersilahkan masuk.
“Iya nih Yen, sibuk dengan alur hidup,” Wina menjawab sekenanya.
Tio yang cool memang terkesan pendiam tak banyak bicara.
“Oh, iya kenalkan ini pacarku.”
Wina mengenalkan Rendy kepadaku kami pun berjabat tangan dan saling senyum.
“Eh kalian mau ikut gak, kebetulan aku udah siap-siap mau jalan nih ke pantai mumpung cuaca cerah,” ajakku.
“Aku udah siapin bekal dan tikar nih, gimana,” lanjutku.
Mereka saling pandang hingga akhirnya menyetujui ajakanku. Kami pun meluncur ke pantai. Kami menghabiskan senja bersama canda tawa mewarnai menambah indahnya suasana.
****************
Setelah lulus SMA aku memang tak mau lagi merepotkan orang tuaku aku berusaha hidup mandiri walau kedua orang tuaku berkecukupan.
“Aku ingin mandiri yah, bolehkan aku meminjam modal untuk usaha?”
Kala itu ayah mencerca dengan berbagai pertanyaan hingga akhirnya ia memberikan pinjaman modal untukku.
Ah, begitulah orang tua walau banyak pertanyaan dan terkesan keberatan tetap saja mau memberi tanpa mengharap kembali.
Dari sinilah aku memulai kehidupan layaknya wanita dewasa. Aku rintis usaha sambil kuliah terkadang aku merasakan letih yang luar biasa hingga terkadang aku putus asa dan ingin kembali meminta kepada orang tua.
Ah! Dasar anak manja! Kapan kau mau berhasil jika mengandalkan orang tua? Ayo semangat. Kucoba menyemangati diri sendiri dalam situasi sesulit apa pun.
“Assalamu’alaikum.”
Suara di balik pintu rumah sewaanku, iya aku menyewa sebuah rumah kecil dekat dengan kampus dan dekat dengan tempat usahaku.
“Wa’alaikum salam,” jawabku sambil kubuka pintu.
“Eh kamu Wina, mari masuk.”
Wina memang berjanji datang malam ini untuk membawa temannya yang bersedia mengalihkan isi tokonya kepadaku. Menurut info dari wina ia akan menutup tokonya karena ia akan pindah ke luar kota. Entahlah itu tidak penting bagiku. Yang terpenting tokoku yang hampir mati bisa bernafas kembali dengan syarat tidak kubayar cash.
“Yen, ini kenalkan temanku yang aku ceritakan tempo hari,” Wina melirik ke arah temannya.
“Tio,” Sambil mengulurkan tangannya kepadaku.
“Yeni,” kusambut uluran tangannya.
Kami pun larut dalam obrolan seputar usaha dan jual beli. Hingga akhirnya mereka meninggalkan rumahku dengan membawa kesepakatan bersama.
*******
Alhamdullilah usaha yang kujalankan sudah memiliki 3 cabang di beberapa daerah modal pinjaman kepada orang tua pun sudah kubayar lunas tak terasa 2 tahun sejak Wina dan Tio datang membantu semua berubah, tapi entahlah kemana mereka? Mungkin sibuk dengan kesibukan masing-masing. Sesekali Wina masih menelponku tapi tidak untuk Tio.
kini kuliahku pun sudah memasuki tahap skripsi yang membutuhkan waktu serta konsentrasi ekstra. Aku pun tak begitu peduli dengan Aries kekasihku karena dia pun sibuk di kesatuannya. Iya, dia seorang TNI Kostrad AD yang bertugas di Surabaya. Sudah hampir 2 tahun kami pacaran namun belum ada kejelasan aku memilih menyibukkan diri dengan bisnis dan kuliahku.
Pernah suatu hari aku meminta putus darinya. Tapi dia tetap tak mau melepasku.
“Tunggulah sebentar lagi sayang, aku akan melamar ke rumah orang tuamu. Kamu tau kan saat ini bukan waktu yang tepat bagi kita. Tugasku belum selesai.”
Dia selalu memintaku untuk sabar menunggu. Aku percaya padanya karena dia adalah teman masa SMA aku pun tidak banyak merisaukannya aku tahu benar karakter pribadinya.
“Begitulah cinta deritanya tiada berakhir!”
Begitulah cinta terkadang kita dibuat gila namun tetap menikmati kegilaan itu. Bagiku Aries memiliki mahnet tersendiri aku tak bisa marah padanya meskipun berminggu-minggu tanpa kabar aku tetap percaya padanya apa yang ia lakukan pasti kegiatan positif.
*************
Hari minggu seperti biasa aku membereskan rumah kecil sewaanku setelah semua bersih aku mandi dan berdandan. Ingin pergi jalan-jalan melepas penat ke tepi pantai. Sengaja sebelum pergi aku siapkan makanan ringan serta alas tikar yang sudah tersusun rapi siap kumasukkan di bagasi mobil pribadiku.
Ting tong….
Bell pintu rumah berbunyi siapakah gerangan yang datang? Aku tak ada janji dengan siap-siapa hari ini. Ku buka pintu. Alangkah terkejutnya aku melihat kedatangan Wina, Tio dan 1 lagi kawannya yang tidak u kenal.
“Hi... Kemana aja kalian? Lama tak ada kabar!” Serbuku sambil kupersilahkan masuk.
“Iya nih Yen, sibuk dengan alur hidup,” Wina menjawab sekenanya.
Tio yang cool memang terkesan pendiam tak banyak bicara.
“Oh, iya kenalkan ini pacarku.”
Wina mengenalkan Rendy kepadaku kami pun berjabat tangan dan saling senyum.
“Eh kalian mau ikut gak, kebetulan aku udah siap-siap mau jalan nih ke pantai mumpung cuaca cerah,” ajakku.
“Aku udah siapin bekal dan tikar nih, gimana,” lanjutku.
Mereka saling pandang hingga akhirnya menyetujui ajakanku. Kami pun meluncur ke pantai. Kami menghabiskan senja bersama canda tawa mewarnai menambah indahnya suasana.
****************

1 komentar:
ciyee, bagus critanya mbaknya.
tanda bacanya masih kurang jelas. wleee
Posting Komentar