Laman

Sabtu, 11 April 2015

Ada Cerita Di Balik Rumangsamu Tsirt #Part.1




Gak tau mau nulis apa, perasaan uneg-uneg dalam benak ini banyak banget kalau lagi diam. Namun ketika duduk dan ngadep keybord semua menjadi sirna #HalahAlasan…. Bilang aja gak jago merangkai kata *Smile

Temans masih fresh diingatan bukan, bulan Maret 2015 lalu tentang fenomenal “Rumangsamu penak kerjo nang Taiwan? Yo Peenaaak…!”

Jujur yach…  Aku tidak begitu mengikuti video-vidio yang beredar atau yang selalu di posting di group OIT atau yang dishare oleh mereka-mereka.
Pertama saya lihat ada video mas tidak pakai baju dan bicara bahasa jawa sekilas aja aku purtar (tidak sampai habis saya matikan).
Aku buru-buru istigfar (spontan aja gak tau kenapa alasannya) yang jelas aku gak begitu paham apa artinya bahasa jawa. 

Hingga akhirnya  ketika aku  pulang kerja berpapasan sama mba-mba biasalah kita orang Indonesia yang terkenal ramah  di mata dunia *Cieleh hhhh
aku sapa tuh mba’nya “Dari mana mba ? Olahraga ya?” sambil senyum. Sok tau gitu. Lihat mba nya pakai celana traning dan kostum olahraga hehe.
Dijawab sama mba nya,” Rumangsamu penak kerjo ndek Taiwan, yahmene olahraga? Yo Penaaaaak….!
Dengan logat sumpeeeh unyu bangeet medok jawa gitu  ckckkc.

Sumpeh gais gw kaga’ ngerti sama sekali waktu itu Cuma senyum aja, gak tau juga mau jawab apa, hahaha.
Sesampai di rumah aku pakai kosakata jawa yang baru aku dapat di jalan tadi kepada teman sekamarku yang kebetulan orang Semarang.

“Rumangsamu, aku kan kesempitan kalau sampean tidurnya mepet-mepet aku mbaa. Rumangsamu, bisa geser dikit mbaa….!! Aku yo ora penak kalau kayak gini….!” Dengan logat sumatraku.
Mba Eka temen sekamarku bukannya geser malah ketawa terkekeh-kekeh.  

Keesokan harinya pas kita masak bareng mba Eka berdiri disampingku, aku mau cuci tangan keduluan dia kemudian dia kasih ke aku. Aku mau ambil sendok keduluan dia ya udah sekalian diambilin sama mba Eka. Aku pun menggunakan kata-kata itu lagi sebagai bentuk protesku karena emang kami suka becanda.

“Rumangsaku, sampean selalu mengikutiku. Sampean ngefans ya sama aku mba? Rumangsamu ngak penak punya fans? Yo penaaak…! Butuh apa-apa selalu ada yang ambilin.”

Kami pun tertawa bareng. Karena mba Eka selalu memperhatikan aku dan sayang banget sama aku. Usianya pun lebih tua dariku jadi aku bisa anggap dia mbak.

“Eh, kamu tau nggak rumangsamu itu artinya apa?” Tanya mba Eka kemudian.

“Ngaak,” jawabku.  

“Rumangsamu itu artinya apakah menurutmu, jadi kata-kata itu ngak sesuai dengan kalimat-kalimatmu dari semalam kamu ucapkan. Hadeh gitu mau jadi menantunya orang jawa, Apa kata warga jawa?” candanya.

Kami pun terkekeh-kekeh.

“Rumangsamu lagi booming loh, kamu tau?” lanjutnya.

“Ngak tau, iya tah mba? Pantesan kemaren aku ketemu mba-mba di jalan aku Tanya apa, dia jawabnya juga pakai Rumangsamu. Makanya aku dapat kosakata itu, dan ikutan” jawabku.

*****




Buka beranda  Fb, linimassa dipenuhi video Rumangsamu. Aku masih belum tertarik untuk membukanya. Cuma dari situ saya amati semakin fenomenal dan banyak teman-teman Facebook posting foto dikasih kalimat pengantar rumangsamu, penak yo penak. Tak ketinggalan juga pak Nano pernah posting foto Nasi dengan lauk krupuk, timun dan sambal yang diberi kalimat pengantar ‘Lagi musim rumangsane penak ora penak .. Penak ora penak yo dipangan’  

Hingga akhirnya Direktur Utama  UT Korea Radio, posting desain kalimat ‘Rumangsamu nggawe karya ilmiah kuwi penak? YO PEENAAKK?’

Aku tunjukin ke mba Eka kalimat itu, tanya arti dan maksudnya, mba Eka pun menjelaskan.
“ Rumangsamu itu menurut kamu, nggawe itu bikin, kuwi adalah itu jadi arti kalimat itu: Menurutmu bikin karya ilmiah itu penak? Yo peenaak…!” Begitu jelasnya. Ia pun menjelaskan kepada siapa kata itu digunakan / penggunaannya dimana.

Dari situ saya sedikit mengerti  penggunaan kata ‘rumangsamu’
Hmmmm ternyata susah juga ya bahasa jawa hehe. Jangankan bahasa jawa, bahasa kelahiran saya aja saya ngak bisa Cuma paham sedikit-sedikit. Bukannya gaya gais, saya numpang lahir aja di sana besar dan tumbuh berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah yang lain. Layaknya manusia purba hahahhaaa.
Jadi saya pakai bahasa Indonesia ajalah yang gampang. Itu pun belum  baik dan benar, oh my god aku ini bodoh ya hehe.

******

Kembali ke kata ‘Rumangsamu’

Aku hubungi Dirut UKR melalui messenger, “Bos, regues dong dari kata rumangsamu kita bikin suatu karya yuk yang bermanfaat, Apa ya kira-kira? Apa ajalah yang penting bermanfaat.”

Kemudian aku kasih ide requesanku.

“Good idea mba, nanti saya coba hubungi teman-teman yang lain bisa ngaknya,” balas si bos.

“Oksip, ditunggu” balasku.

Berlalu beberapa hari kemudian

******


Buka facebook, beranda paling atas si boss UKR ganti PP pakai Rumangsamu Tshirt Korea.
Aku langsung kirim messenger, “Bos bla..bla..bla…”

“Ok sip, nanti malam mba. Masih kerja ini.”

“Ok sip, lebih cepat lebih baik bos. Hati-hati nanti di sedot orang.”

Beneran malam harinya aku langsung survey Tshirt tersebut dan disambut hangat oleh teman-teman facebook.  Bahkan ada yang langsung pesan. Wow...! Keren.
Keesokan harinya aku open order hingga tanggal 23 Maret 2015. Sekitar 5 hari masa pemesanan.

Di tengah-tengah masa pemesanan aku  mendapatkan angin tak sedap. Tadinya aku gak tau karena memang jarang memperhatikan postingan teman-teman kecuali pas buka facebook dan melintas di branda.  Mungkin teman-teman juga merasakan aku jarang nge’like atau pun komen iya kan? Bukannya sombong gais tapi keadaan memang yach begitulah  hehe.

Apa rupanya angin tak sedap itu? Tiba-tiba om Ryan Ferdian ngechatting kirim scansoot status seseorang yang isinya, bla…bla..bla intinya menjugle kegiatanku dalam memanfaatkan kata ‘Rumangsamu’

“Kira-kira status itu untuk siapa ya bu,” tanya om Ryan kemudian.

Aku balas chattnya om Ryan dengan emot senyuman (^^) , “Selagi tidak menyebutkan namaku berarti bukan untukku. Karena apa yang dipikirkan orang lain jauh dengan apa yang ada dalam benakku. Cuek aja om,” balasanku.

Tak berapa lama ada lagi mba Ellen inbox, “Mba Rita, sampean dikata-katain bla..bla..bla...  oleh si A.”

“AKu panas baca statusnya dan komen-komen yang ada di sana, gregetan tak balas juga komennya dengan pedas,” inbox mba Ellen.

Lagi-lagi aku hanya membalas inbox mba Ellen dengan emot senyuman. Lalu membalas, “Sabar ya mba Ellen, nda usah emosi, mba Ellen, ngak usah ikut-ikutan komen yang akan menambah suasana yang kurang nyaman. Santai aja mba. But the way terima kasih ya sudah setia di belakangku.”  Aku kirimi emot boneka peluk hati warna merah. Menggambarkan rasa sayangku pada sahabat yang setia.

Tak berapa lama ada lagi yang inbox, kasih tau aku tentang hal yang sama.
Lagi-lagi aku hanya membalas dengan emot senyuman.
Karena aku ngak tau mau balas apa hehe.

Aku penasaran juga sebenarnya siapa mas  yang dimaksud oleh om Ryan dan mba Ellen ini, maka aku pun stalking ke branda fb nya.
Eh, ladalah kami sudah berteman di facebook ternyata gais.

Aku langsung inbox, “Assalamu’alaikum mas, yang kece nan ganteng baik hati. Kita sudah berteman ya di f b tapi sepertinya belum pernah berjumpa, semoga lain kali kita bisa berjumpa inshaAllah. Saya hanya mau tanya apakah  tulisan ini mengarah ke saya? Karena memang  saya salah satu  penjual desain Tshirt yo Penak.”

Kemudian aku kirim scansoot yang aku dapat dari om Ryan.

“Entahlah malam ini ada 2 orang teman yg inbox dan scansoot status tersebut. Karena saya tidak tau kalau ternyata teman fb saya yg nulis, maklum jarang update dan perhatikan postingan teman-teman. Eh, malah udah 3 orang yang memberi tahu saya tentang postingan ini. Jika benar tulisan itu ditujukan kepada saya, saya berterima kasih. Saya sangat paham apa yang kita lakukan akan menjadi pro dan kontr orang-orang di sekitar kita.  Itu artinya mereka perhatian pada saya. Tergantung kita memandang dari segi mananya. Jika saya salah mas boleh menegur saya secara langsung saya akan berterima kasih.
Yang berhak menjugle seseorang hanya Allah inshaAllah. Salam ukhuah mas. Mohon doanya semoga berkah untuk semua, success untuk masnya,”  isi inbokkanku.

Tak berapa lama dibalasnya, “Mba Rita merasa? Maaf mba, untuk kaos yang mba pakai itu sangat jauh dari nilai ukhuah. Silahkan komen di  status saya saja mba. Terima kasih.”

“InshaAllah saya baik-baik saja mas. Dan hanya Allah yang berhak menilai niat hambaNya, bagaimana Dia menerima atau menolak terima kasih. Salam ukhuah saya bukan lantaran kaos itu mas. Lantaran mas hamba Allah, mahluk ciptaan Allah, mohon maaf jika ada kata-kata khilaf. Terima kasih,  selamat malam, selamat istirahat,” aku pun membalas sekaligus menutup chatting tanpa ada balasan dari mas itu lagi.

Aku tak mau komen di status mas itu yang memang aku tidak merasa status itu untukku, karena apa yang ia pikirkan jauh dengan apa yang ada di benakku. Dari pada membahas yang menurutku  akan menjadi keretakan hatiku *ahay bahasanya hahhaa. Pastinya akan menguras emosional tinggi yang akan melelahkan lebih parahnya belum tentu benar di mata Allah. Aku memilih diam, secara aku sudah menghubungi langsung sang pemilik status dan mendapat jawaban seperti di atas.
So, aku anggap aja sudah clear. Tanpa harus mengikuti apa yang mereka bicarakan di belakangku.  

Keesokan harinya mba Sucie selaku bendahara UT-TP menghubungiku melalui messenger yang intinya agar aku menggagalkan rencana pencetakan ‘Yo Penak Tshirt’ menurutnya  aku  akan berhadapan dengan organisasi X & Y.

Wow, seheboh dan sefenomenal itukah aku? Ini bakalan seru jika memang aku diundang oleh salah satu organisasi ternama itu pikirku. Di situ aku merasa senang akan berdiskusi sesuatu yang fenomenal.

“Jangan kuatir mba Sucie, aku akan menghadapi sendiri jika memang itu terjadi. Aku ngak akan bawa-bawa mba Sucie,” balasku.

“Ya sudah kalau memang begitu,” Jawab mba Sucie.

Eh malam harinya lagi-lagi aku mendapatkan inbox dari pak Nano yang menyampaikan inti prihal yang sama persis dengan apa yang disampaikan oleh mba Sucie. Dan lagi-lagi saya menjawab dan menjelaskan hal yang sama.  
Mas Nano memaksaku untuk menjelaskan kepada mereka di status tersebut tapi maaf  bukannya aku tak mau atau apalah.
Aku ingat kutipan Ali Bin Abi Thalib,”Tak perlu menjelaskan tentang diri kita kepada siapa pun karena yang suka pada kita tak membutuhkan itu dan yang tidak suka ia tak akan percaya hal itu.”

Aku tak mau kehadirann komenku menambah keadaan memanas atau ada hati yang terluka jika aku komen dengan nada yang emosi atau menyakitkan hati.

Kebetulan ketika itu aku menemukan postingan seseorang tentang suatu surah dalam Al-Qur’an kalau tidak salah hikmah  surah Al-Hujurat menjelaskan tentang  tentang seiman ituadalah saudara dan sepenanggungan. Semakin kuat aku berdiri karena ini.

Bersyukur pada Allah karena banyak teman-teman yang memperhatikan aku, bahkan disaat aku tak banyak waktu memperhatikan mereka. Maafkan aku ya temanz.
Aku hanya perhatikan kalian dalam hati … *Ciee bawa-bawa hati nih yee.. :D

Hay gais, aku tidak serta merta setelah tanggal 23 Maret 2015 saat penutupan pemasanan Tsirt itu langsung cetak.  Aku sengaja menunggu hingga 3-4 hari, mengapa? Ya aku menunggu mungkin akan ada undangan diskusi prihal memabahas ini, sengaja aku belum langsung mencetaknya.

Dalam kurun waktu 3-4 hari tersebut aku sambil berdo’a yang intinya jika memang ini Allah tidak berkehendak maka akan gagal pencetakan kaos ini dan aku sudah menyiapkan alternatif  lain yaitu Tsirt dengan desain selogan ‘S3 & Keep Positif Thinking’
Apa itu S3? Syukur, Sabar, Semangat. Berprasangka Baik  #Smileeee ^^

Jujur ketika namaku beberapa kali dimention oleh seseorang di status tersebut hati ini sakit. Ya Rabb….
Walau aku tak sempet membaca komen-komen yang sudah panjang kali lebar itu. Karena jauh sebelum komentarnya sampai ratusan itu aku sudah menghubungi langsung si mas itu. So what gitu loh….!!


Bukankah sesama  muslim itu saudara? Bagaimana perasaanmu jika saudaramu dihujat orang lain?  
Namun aku kembali tegar tatkala menemukan postingan dari seseorang yang melantunkan QS. Adz Dzariyat. Ada salah satu ayat yang menjelaskan bahwa, benar diantara kamu dalam keadaan berbeda-beda pendapat.”

Aku juga banyak di inbox teman-teman memberikan dukungannya agar aku sabar atas hujatan.
“Well sob.. iam fine inshaAllah ada Allah, semua akan baik-baik saja,” berusaha menyemangati diri sendiri.

Aku pun banyak berdiskusi sama teman-teman lain  di Taiwan mereka mensuport aku, “Udah cetak aja mba, sah-sah saja toh tidak menyalahi UU atau mba melakukan tindak criminal. Anggap saja itu hambatan kecil dalam berbisnis. Karena memang jika seseorang maju dan success bakal ada orang-orang yang tidak suka itu hal biasa.”
Yang membuat aku tambah yakin akan mencetak ‘Rumangsamu Tsirt’ ini setelah berdo’a dan mendapat dukungan teman-teman. Walau ada sebagian temanku yang tadinya mendukung pun berbalik arah. “Well…!.”

Aku tunggu-tunggu tak ada yang menghubungiku prihal ajakan diskusi tentang itu.
Diskusi yang kumaksud di sini bukan saling menjatuhkan atau apalah di branda facebook ya gais. Diskusi yang kumaksud adalah mencari solusi terbaik yang bisa mendatangkan manfaat untuk sesama.
So aku memutuskan untuk mencetaknya karena memang sudah 100 lebih dikit pemesan yang sudah masuk.
Coba kalkulasikan 100 kaos  X 100NT sudah NT$ 10.000 yang rencanaku akan aku sumbangkan di salah satu Rumah Baca.  
Melalui UT-TP. Mengapa aku harus melalui UT-TP? Sebenarnya bisa saja saya menyumbangkan kemana saja aku mau iyakan?
Karena ini bukan  program kerja UT-TP. Saya selaku ketua UT-TP tau persis keuangan kas yang tinggal 4.000 NT sedangkan teman mahasiswa UTT yang sudah pulang ke Indonesia menghubungiku meminta bantuan untuk membetulkan jalan menuju SD yang rusak akibat banjir di Indramayu. Sedangkan kami tak punya donator tetap gais.

Hai gais, gimana perasaanmu jika ada orang yang meminta bantuan padamu?
Di situlah kadang aku mencari ide bagaimana agar aku bisa membantu mereka.
Aku tak akan membahas tentang UT-TP di sini. Jika ada yang penasaran bisa dilihat di Fans Page nya  UT Taiwan Peduli atau ke websitenya di sana ada laporan kegiatan dan juga laporan keuangannya gais. Jadi jika ada yang perlu ditanyakan boleh langsung tanya ke saya.

******

Betapa terharunya kemaren, Jum’at, 10 April 2015 ketika seorang mas-mas yang uplod foto memakai ‘Rumangsamu Tshirt’ untuk sholat jum’at di daerah Taichung. Maka aku pun meminta ijin untuk mengambil foto tersebut dan memposting di branda facebookku, dan juga foto mba Puput yang bekerja di Taiwan juga.
Alhamdullilah ‘Rumangsamu Tsirt’ akhirnya cetak juga dan saat ini masih banyak pula yang pesan, inshaAllah saya akan buka untuk priode ke-2 malam ini sabtu, 11 Maret 2015.  

Ini ada beberapa foto beberapa teman yang pakai ‘Rumangsamu Tsirt’  mana nih, yang lain fotonya ditunggu ya kawans hehe. Terima kasih atas segalanya. Semoga Allah membalasnya ya gais, saling mendo'akan.

Oh iya, nanti akan saya update di sini untuk penyerahan, hasil dari penjualan 'Rumangsamu Tsirt' kepada Rumah baca ya. Sabar ya gais.







2 komentar:

Elen boecil mengatakan...

Like :-)
Keren banget ...!!

Elen boecil mengatakan...

Like :-)
Keren banget...!!!