"Cha," suara temanku membuyarkan lamunan.
Ya, aku melamun saat istirahat di taman depan kelas.
"Ada apa Ry," jawabku tanpa menoleh kearahnya.
Sahabat baikku bernama Ryati.
" Aku lihat ada surat untukmu di tempat surat, sempet aku baca nama pengirim Anton," lanjunya.
Tanpa menjawab aku langsung lari menuju tempat surat yang tersedia di sekolah. Dengan sigapnya kusambar tumpukan surat di meja, ketemu surat yang aku cari. Surat dari Anton! Anton adalah sahabat pena dia siswa SMU di lain kota, satu kota dengan pamanku.
Salam kangen buat sahabatku, Secha.
Tho the poin yach Cint,
Cint, apa kabar?....
semoga tetap sehat, cantik & manis tentunya. Aku juga sehat di sini cint, sebentar lagi Ujian Akhir Nasional do'akan lulus ya cint.
Jika lulus, aku akan melanjutkan kuliah di Bandug cint... yah, pasti semakin jauh jarak kita ya cint. Hmmm.. jangan khawatir cint, aku bakalan kirim kabar jadi kita akan selalu terasa dekat.
Begitulah sekilas isi surat dari sahabatku, kami selalu berkirim surat setelah pertama berjumpa saat berkunjung ke rumah paman dan berkenalan dengannya kala itu aku masih SMP. Dia memanggilku dengan sebutan Cint, aku memanggilnya dengan sebutan ta' .
So sweet ya kedengaranya. Seperti sepasang sejoli tetapi kami hanya berjumpa sekali selebihnya komunikasi melalui surat, maklum dulu belum membahana yang namanya HP, BB apa lagi EfBe dan sejenisnya.
Cukup dengan surat sudah membuat bahagia.
2 tahun kami menjalin persahabatan walau hanya melaui surat. Serasa sudah sangat dekat, hampir setiap minggu aku terima surat darinya.
Tibalah pengumuman di sekolah. Alhamdullilah aku lulus, ada suatu hal yang mengharuskan aku melanjutkan sekolah di kota pamanku, senang bisa sering berjumpa dengan sahabat penaku.
Segala berkas persyaratan pindah sekolah ke luar kota telah kupersiapkan, dengan niat yang bulat yaitu melanjutkan sekolah.
********
" Mau kemana dek," suara ibu paruh baya tiba-tiba mengagetkanku.
"Saya mau ke jepara bu," jawabku singkat tanpa menoleh kearahnya.
Pandanganku tetap menuju kedepan menginat-ingat di mana aku harus turun, maklum aku hanya sekali saja datang ke kota paman, 2 tahun yang lalu. Sekarang aku datang seorang diri, sudah pasti aku lupa.
"Jepara, udah lewat dek," Ibu itu menepuk bahuku.
"Stooppp pir, pak supir," teriakku kencang tanpa memperdulikan hampir semua penumpang dalam bus itu menoleh ke arahku.
"Terima kasih ya buk," ku jabat tangan ibu itu dan menciumnya serta ku ucapkan salam perpisahan untuknya tat kala bus itu telah berhenti tak lupa aku sebut namaku.
Hmm... perjalanan yang melelahkan, akhirnya sampailah di kota yang kutuju. Aku termasuk cewek pemberani aku suka dengan yang berbau tantangan, kemana-mana aku terbiasa sendiri sebenarnya karena memang keadaanlah yang menuntutku harus mandiri hehe.
Aku seperti orang hilang saat turun dari bus, jalan sendiri menenteng tas berisi pakaian dan tas rangsel berisi buku-buku.
"Secha, kamukah?"
Saat kumenoleh ke arah datangnya suara ternyata Anton, mengendarai motor Ninja RR warna merah.
"Cint, aku udah nunggu di Pasar Jepara lama banget kupikir kamu gak jadi datang hari ini, mengapa kamu berhenti di sini"?.
"Kamu tanya atau sensus penduduk sih ta, jangan banyak tanya dulu, berat nih bantuin bawa, capek tau."
Tanpa dia suruh aku langsung naik ke motornya, entahlah aku merasa udah sangat akrab dengannya sejak pertama berjumpa.
"Cint, aku udah gak sabar pingin ajak kamu makan di lesehan pondok bambu yang dulu kita pernah ke sana ingatkan, ntar malam kita ke sana ya? tenang aku minta ijin sama paman mu."
"Emang boleh gitu, enak aja aku kan baru datang ta," jawabku ketus.
Kami ngobrol di atas montor, tak terasa sudah sampai di depan rumah pamanku.
*****
Malam itu Anton datang ke rumah pamanku dan meminta ijin untuk mengajak ku makan di luar bareng dia, memang Anton akrab dengan keluarga pamanku.
Setelah kami mendapat ijin langsung cabut ke tempat yang kami bicarakan sore tadi tak ketinggalan gitar kesayangannya.
Tak heran kemana-mana dia bawa gitar, karena dia salah satu personil band di sekolahnya.
Hmm... malam itu Anton sahabatku terasa beda dengan penampilan 2 tahun yang lalu dia lebih dewasa dan lebih tampan tentunya, postur tubuhnya atletic wajar saja dia juga jago main basket.
Setelah selesai makan kami duduk di tepi danau yang malam itu bulan bersahabat dengan sepoian semilirnya angin yang sesekali mendesirkan hati ini.
Berjalan di tepi pantai....
Bertiup angin berhembus
Sejukkan hati damaikan diri
Melihat dirimu......
Alunan lagu diiringi petikan gitar yang mendayu-dayu syahdu, dia menatap mataku dalam penuh arti. keringat dingin serta detupan jantung yang mulai tak beraturan membuat ku salah tingkah.
"Sebentar ya," dia meletakkan gitarnya di sampinku dan meninggalkan begitu saja.
"Cint"...
Sambil mengulurkan setangkai bunga mawar merah, dia duduk di hadapanku.
"Sebelum aku ke Bandung, aku mau mengatakan selama ini sebenarnya aku menaruh hati pada mu cint, aku gak tau apa dengan kejujuran ini kamu bakalan menjauhi & membenci serta marah padaku karena aku yang enggak bisa menjaga persahabatan kita."
Tanganku dingin seperti es & darahku terasa mendidih, bibirku tak mampu berkata-kata sepertinya telah terkunci oleh malaikat penjaga kubur hehe. Ku hanya mampu menganggukkan kepala bertanda aku pun juga menaruh hati padanya. Mata kami beradu pandang untuk beberapa waktu serta tangan kami saling berpegang erat sekali seakan tak kan terpisahkan satu sama lain.
Sejak saat itu status pacaran.
*******
Tahun ajaran baru, suasana baru, sekolah baru di lingkungan yang baru pula dan harus beradaptasi dengan semua perbedaan yang ada.
Pacar jauh, Anton melanjutkan study di Bandung, komunikasi kami tetap melalui surat hingga satu tahun lamanya tidak berjumpa.
"Allahu'akbar..Allahu'akbar ... Allahu'akbar ...
Laillahaillallohuallohu'akbar, Allahu'akbarwallilah Ilham."
Suara takbir berkumandang, di malam idul fitri Anton pulang untuk berlibur bahagia rasanya bisa bertemu dengan kekasih hati sekaligus sahabat sejati.
"Cint, senyummu tambah manis aja, yang tak bisa ku lupakan darimu," begitulah gombalan yang menggetarkan hatiku saat bertemu di mushola malam itu.
"Ta, gombalmu tulus kan?" jawabku untuk menyakinkan ucapannya.
Dia mengeluarkan bungkusan dari dalam jaketnya seraya berkata, "Cint, ini ku beli dengan hasil keringatku agar memudahkan kita berkomunikasi, ku harap kamu mau menerimanya."
Ku buka bingkisan dari kekasih yang sangat ku cintai.
"Ta, apa gak mahal ini?.. tidak perlu kamu beli yang beginian, kita komunikasi melalui surat itu sudah cukup membuatku bahagia, insyaallah aku bisa setia menunggumu."
"Cint, jadwal kegiatan dan belajarku padat terkadang aku gak sempet nulis surat, dengan adanya handphone ini kita bisa mudah berkomunikasi, please terima ya," sambil meletakkan tangannya tanda memohon.
Hm... malam takbir kami bisa berkirim pesan melalui handphone.
Handphone baru Alhamdullilah...
Tuk dipakai di hari raya...
Tak punya pun tak apa-apa
Kekasihmu membelikannya
Isi pesan pertama dari Anton malam itu ketika kami telah pulang ke rumah masing-masing.
Dua minggu kebersamaan kami terasa sangat cepat berlalu hingga waktunya tiba Anton harus kembali ke Bandung.
Saat ku mengantarkannya di stasiun bus jurusan Sumatra-Jakarta ku bisa menangkap raut wajahnya yang sedih karana harus berpisah lagi denganku.
Dari pancaran mata tajamnya ku bisa merasakan kedamain, kesejukan dan cinta yang tulus.
Selama ini hanya dia sahabatku tempat ku bercerita, berbagi baik suka dan duka. Hari ini dia akan meninggalkan aku lagi dan kemungkian satu tahun kedepan baru bisa berjumpa.
******
Drettttt..dretttt.. drettt Hp ku bergetar, langsung ku buka "Cint, Alhamdullilah dah sampai nih... Love you." pesan singkat darinya.
Ku balas, "syukurlah, istirahat dan jaga kesehatan ya ta."
"Tuhkan, ekspres kan kalau pake hp? coba kalo surat bulan depan kali baru dapat kabar, hehe," balasnya.
Sejak saat itu hari-hariku lebih bersemangat komunikasi kami lancar jaya.
Tidak seharipun tanpa berkirim kabar, cerita tentang kuliah dia dan segudang kegiatannya karena dia ketua senat di kampusnya.
Begitu pula dengan diriku.
Tidak terasa kami menjalin hubungan telah 3 tahun selama itu kami saling setia walau jarak memisahkan, lamanya aku dekat dengannya sudah 5 tahun hingga status kami berubah menjadi tunangan dan setelah dia lulus kami akan membicarakan pernikahan.
**************
"Cint, libur smester ini aku akan mudik kebetulan tidak begitu sibuk." sms darinya.
"Benarkah? asyiik, aku juga sudah kangen padamu ta, kapan?" balasku.
Tak berapa lama dia balas lagi, "lusa aku cabut dari Bandung."
Obrolan via sms pun terputus karena dia pamit ingin membereskan barang-barangnya.
Tak sabar rasanya ingin bertemu dengan pujaan hatiku, rindu sudah menggunung.
hari ini Anton akan pulang dan itu yang membuat aku bersemangat tak henti-hentinya ku berdo'a, setiap saat kami sms selama dia di perjalanan.
"Udah sampai mana ta?" tanyaku tak sabar menunggu. "Sabar cint, bentar lagi aku akan bertemu denganMu, i love you," Balasnya.
karena menurut informasi darinya 1 jam lagi sampai stasiun bus di kota kami, oleh karena itu aku menunggunya di stasiun.
"Ok aku akan selalu sabar," balasku tak berapa lama. Dia tidak membalas smsku.
"ta, kok gak balas sih, lowbet ya?" ku kirim pesan lagi, Kali ini smsku gagal.
"Ah, sms gagal, pasti lowbet," gerutuku dalam hati.
Ku pandangi jam tanganku sudah hampir 1 jam dari sms terakhirnya, itu berarti sebentar lagi busnya akan dating, aku sudah dag..dig..dug tak sabar menunggu.
duduk- berdiri, mondar-mandir di ruang tunggu.
Antara bingung dan tak menentu ku mencoba untuk tenang ketika Adzan magrib berkumandang saat itu pula hanphone ku berdering.
(Hpku bordering)
Aku lihat panggilan dari Anton, "Asalamu'alaikum, halo.. ta katanya 1 jam kok lama banget sih, tau gak jantungku deg-degan tau udah gak sabar, cemas campur aduk. Mana handphone mu mati lagi, kamu dimana ini." Aku menghujad dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Wa'alaikum salam," suara dari sebrang sana sedikit beda dengan suara pemilik handphone.
"ini Secha ya, maaf saya buka handphone milik saudara Anton dan menemukan orang terakhir yang diajak komunikasi, kami dari pihak kepolisian ingin melaporkan bahwa saudara Anton saat ini sedang di rawat di RSU," lanjut dari pemilik suara.
Saat itu pula handphoneku terjatuh dan aku terduduk lemas tak bertenaga tapi ku coba untuk mengambil wudhu dan sholat di mushola dekat stasiun pemberhentian bus.
Aku berusaha menenangkan hati ini dan berdo'a agar tidak terjadi apa-apa.
*****
RSU Abdul Muluk, aku berlari tergesa-gesa menemui polisi dan menanyakan kabar orang yang sangat kucintai tapi mereka belum mengizinkan aku menemuinya karena masih dilakukan perawatan, aku pun mencoba menghubungi seluruh keluarganya dan keluarga pamanku.
tak berapa lama aku di ajak ke ruang dimana dia dirawat, aku bergegas memasuki ruangan di mana Anton di rawat dengan didampingi beberapa suster dan polisi.
Betapa terkejutnya saat aku masuk ruangan mendapati orang yang sangat ku sayang & ku cinta telah ditutup kain putih, dia sudah tak bernyawa dan tak bisa bergerak lagi.
Terbujur di ranjang khusus mayat. Semula aku menyakinkan pada orang-orang disekitarku bahwa itu bukanlah Antoh namun aku tak berani membukanya.
Aku minta diantar ke ruangan lain, aku tarik tangan suster untuk ke luar ruangan.
Namun suster menenangkanku perangsur-angsur aku mulai bisa menerima kenyataan dan membuka kain putih yang menutupi tubuhnya.
Aku merasa lemas dan semakin tak bertenaga lututku serasa tak mampu menopang tubuh mungilku tatkala kulihat wajahnya yang memucat serta tubuh dinginnya.
"Inallilahi wainnailaihi rojiun," kubisikkan do'a di telinganya.
Air mataku tak menetes setetespun tapi hatiku terasa teriris sakit... sakit sekali.
*****************
Tangis keluarga dan kerabat serta tetangga-tetangga terdengar suasana sangat haru sedih, mana kala jasadnya sampai di rumah. Aku berinisiatif menghubungi sahabat kuliahnya.
Keesokan hari para sahabat dan rekan kuliahnya datang ada beberapa mobil untuk memberikan penghormatan terakhir almarhum sebagai ketua senat.
Mereka banyak cerita kepadaku tentang kepribadian almarhum saat di kampus, teman kuliahnya ternyata tau tentang hubungan kami.
Mereka memberi dukungan agar aku bisa sabar dan ikhlas melepasnya karena ini semua rahasia Allah.
Upacara pemakaman almarhum berjalan hikmat dan lancar, ramai sekali orang-orang mengantarkan kepergiannya ke liang kubur, walau dengan sisa tenaga yang ku miliki ,aku tetap berusaha tegar dan kuat serta ikhlas melepas cinta sekaligus sahabatku.
******
Handphone miliknya aku buka dan kubaca smua pesan yang masuk dan pesan yang keluar aku sangat terharu dengan kesetiaan dan cinta tulusnya untukku,
"Tuhan mengapa kau ambil orang-orang yang begitu tulus menyayangiku, ibuku beliau orang yang sangat kau sayang, sahabat serta kekasihku," bisikku dalam hati. "Apakah ini yang terbaik untukku ya Allah, Astaqfirullahaladzim jauhkan hamba dengan fikiran buruk tentangMu ya Allah, aku yakin rahasiamu lebih indah dari fikiran manusia."
Sembari kuusap air mata yang membasahi pipi ini.
Saat ku buka pesan terkirim di handphonenya, "Sabar cint, bentar lagi aku akan bertemu denganMu, i love you." pesan terakhir darinya. Air mata ini mulai membanjiri pipiku. Huruf M itukan menunjukan Allah karena menggunakan huruf kapital, iya ta' aku akan sabar walau kau pergi menghadap Allah untuk selama-lamanya bawalah cinta ini, semoga kau bahagia di sisiNya, semoga amal kebaikkanmu diterima dan kau mendapat tempat di sisiNya, Amin ya rabbal'alamin."
Salam S3 & Be Positif Thinking