Laman

Minggu, 21 Februari 2016

High School Story





Siang itu udara nan panas tak menyurutkan semangatku untuk melangkahkan kaki menerobos jalanan yang tak begitu ramai. Sepatu usang, kaos kaki lusuh yang sudah ku ikat pakai karet gelang karena kaos kaki tersebut molor hampir satu tahun terakhir tak pernah ganti hingga lulus sekolah tingkat pertama.
Dengan penuh keyakinan aku mendaftar di salah satu sekolah ternama di Lampung Timur. 

“Wah! Sayang sekali nak, kamu sudah terlambat hari ini pengumuman padahal nilai kamu tinggi bisa masuk di sekolah ini. Mengapa kamu baru daftar hari ini?”

Lemas rasanya mendengar kata-kata itu bahwa aku tidak bisa diterima di sekolah tersebut.  Aku tahu sekolah itu sangat diperhitungkan dari seluruh sekolah tingkat atas yang ada  di Lampung. Walau nilai hasil kelulusan tingkat pertama tertinggi di daerahku yang namanya terlambat daftar ya tetap saja terlambat tak ada kompensasi dari sekolah paling berkualitas dari seluruh Lampung Timur.

“Saya baru datang dari luar kota bu, Di Lampung Timur ini saya ikut saudara untuk sekolah di sini,” jawabku tak bersemangat lagi.

Guru-guru yang ada di ruangan tersebut dapat membaca raut wajahku yang tak bersemangat dan lesu karena aku telah terlambat mendaftarkan diri. 

“Nak, kamu bisa mendaftar di SMU.Teladan. Sama saja kualitasnya karena tenaga pendidiknya sebagian besar guru-guru yang mendidik di sekolah ini juga, jadi ibaratnya sekolah itu adik-kakak dengan sekolahan ini,” Saran dari salah satu guru yang berada di dalam ruangan tersebut.
Tak berfikir panjang aku pun langsug  berpamitan dan menuju sekolah yang dimaksud untuk mendaftarkan sebagai calon siswa.

*******

  Bahagia rasanya setelah pengumuman namaku diterima dan  tercatat sebagai peserta orientasi siswa baru karena tak semua siswa beruntung bisa lolos dan masuk di SMU. Teladan tersebut.
Hari ini adalah hari pertama aku mengikuti serangkaian kegiatan MOS (Masa Orientasi Siswa) tak pernah aku sia-siakan kesempatan berharga ini dan tak pernah kubayangkan aku bisa sekolah hingga ke jenjang SMA. Berbagai rintangan dan perjuangan hingga aku bisa sampai di Kota ini. Layaknya manusia purba yang harus berpindah dari satu kota ke kota lain.
Oleh karena itu aku harus bisa memanfaatkan sebaik mungkin kesempatan ini.

“Bismillahirohmanirohim.”


Kegiatan MOS telah selesai diselenggarakan tiba saatnya hari terakhir, diujung acara panitia mengumumkan siswa Teladan dimasa orientasi.

Echa Gading Cempaka namaku disebutkan oleh panitia dan diberikan ucapan selamat serta bingkisan atas terpilihnya sebagai peserta terbaik saat orientasi.

Sejak saat itu aku terkenal di sekolah baik dari kakak kelas maupun seangkatanku walau aku susah untuk mengenali mereka satu per satu yang jumlah seagkatanku saja ratusan, ditambah jumlah kakak kelasku aku berusaha tersenyum jika mereka menyapa namaku di sudut-sudut sekolah sebagai tanda aku pun mengenal mereka. Ditambah aku terpilih menjadi wakil ketua OSIS untuk mendampingi Al-Ghifary kakak kelasku.

Bagiku penghargaan peserta terbaik saat orientasi dan jabatan wakil ketua OSIS menjadikan tanggung jawab baru yang harus kupikul saat itu dan harus kubuktikan dalam pergaulan sehari-hari di lingkungan sekolah mau pun lingkungan tempat tinggalku. Entah dari siapa berita tersebut cepat menyebar di kampung saudaraku dimana menjadi lingkungan baruku karena memang banyak siswa selain diriku yang sekolah di tempat yang sama. sehingga banyak orang tua mempercayakan kepadaku atas anak-anak mereka untuk kuajari pelajaran sekolah mereka. Dan Alhamdullilah bisa menambah uang saku untuk keperluanku walau aku tak pernah meminta atau menentukan standar atas tenagaku, seiklas mereka saja memberikan upah kepadaku. Adik didikku siswa-siswi SD dan SMP.

**********  

Jarum jam di dinding ruang tamu menunjukkan pukul 06:00 aku bergegas menghampiri si mbah yang sedang duduk di kurssi kayu sambil sarapan singkong rebus ditemani segelas kopi dan mendengarkan berita dari radio tuanya.

 “Sarapan dulu Cha, sarapan itu menunjang daya otakmu untuk menyerap pelajaran,” Suara embahku mengingatkan ketika aku bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.
Aku hanya tinggal bersama si mbah kakung seorang diri di sebuah gubuk yang berada jauh dari perkotaan namun aku merasa bahagia tinggal di desa nan damai ini.

 “Aku puasa Senin – Kamis mbah,” jawabku sambil kuulurkan tangan bersalaman dan mencium tangannya berpamitan sebelum berlalu meninggalkannya.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam.” Jawabnya.  

Sebenarnya kebiasaanku puasa sunah itu sejak sekolah menengah pertama, itu kulakukan karena aku jarang punya uang jajan di sekolah malu jika sampai di lihat teman-temanku aku tak pernah jajan itulah sebabnya aku sering puasa sunah jadi bisa irit sekaligus ibadah.
Dan kebiasaan itu terbawa sampai aku melanjutkan sekolah tinglat atas.

“Tok tok tok.” Aku mengetuk pintu kelasku.
Hari ini aku terlambat masuk ke kelas saat pelajaran Matematika sudah dimulai.

“Masuk..!” Suara dari balik pintu aku yakin itu suara guru yang mengajar mata pelajaran tersebut. 

“Assalamu’alaikum maaf buk terlambat, saya siap menerima hukuman.” 

“Wa’alaikum salam, bukannya kamu wakil ketua OSIS? Mengapa bisa terlambat?” Suara berat dari guru tersebut yang tak mampu kutatap wajahnya. 

 “Maaf buk, hari ini saya tidak dapat tebengan sehingga harus berjalan kaki sejauh 2 Km dari rumah ke jalan raya dan tadi tidak langsung dapat mobil, saya siap dihukum buk.” Jawabku tertunduk.

“Jadi rumahmu di pedalaman?” tanya guru itu lagi.

Belum sempat kujawab sebuah suara datang dari pojok ruangan, “Iya buk, lihat saja itu sepatunya kotor belepotan tanah merah.”

Hujan gerimis menyebabkan jalanan di desaku becek dan sedikit berlumpur karena terlambat aku tidak sempat mencuci atau mengelapnya di toilet sekolah aku terburu-buru langsung masuk kelas tanpa memperhatikan sepatuku yang memang sedikit kotor mana sepatuku pun sepatu lama jadi lengkap sudah penderitaanku saat itu.
Terdengar suara riuh gelak tawa teman sekelasku menertawakan.

“Sudah-sudah tenang semua, kali ini kamu ibu maafkan. Silahkan duduk lain kali jangan terlambat lagi kalau sampai terlambat ibu tak segan-segan menghukummu. Mari kita lanjutkan pelajarannya.”

 “Terima kasih buk, InshaAllah lain kali tak akan terlambat lagi.”
Aku berjalan menunduk karena malu menuju meja depan tempat dudukku.

Aku bisa bernafas lega setelah duduk dibangku disambut senyum manis sahabat semejaku. Pelukan lengannya dari belakang cukup menenangkan rasa malu dari ejekan Satria ketua kelasku.

“Santai aja Cha, Satria memang reseh anaknya,”  bisik Anie sahabatku.
Aku tak menjawabnya, hanya memberi isyarat agar focus ke papan tulis karena guru sedang menjelaskan pelajaran.  
Karena terlambat namaku sudah tercatat di bagian satpam sang penjaga gerbang, disela-sela belajar aku terus berpikir dan berdo’a agar ke depannya tak pernah terulang.


 Sejak kejadian itu aku bertekat untuk membuktikan kepada semua guru dan teman-temanku agar tidak terlambat lagi sehingga tak akan pernah menjadi bahan tertawaan mereka karena aku tinggal di Pedalaman yang berpenampilan kotor  lumpur tanah merah yang menempel di sepatuku.

  Aku tidur lebih awal dan bangun tengah malam antara pukul 03:00 atau pukul 04:00 kemudian belajar dan tak pernah tidur lagi hingga waktu berangkat sekolah, hampir setiap hari jika tak ada tebengan sudah dipastikan aku berjalan kaki sampai jalan raya baru kemudian naik mobil  menuju sekolahku.

 Begitulah rutinitasku setiap hari yang menghasilkan prestasi peringkat ke-1 di kelasku setiap smesternya. Diakhir masa kenaikan kelas aku mendapatkan surat rekomendasi beasiswa prestasi selama 10 bulan bebas biaya untuk  kelas 2 namun prestasiku masih juara umum ke-2 dari seluruh kelas seangkatanku. Juara umum ke-3 yaitu Alya sahabatku dari kelas sebelah yaitu kelas 1- 4. Sedangkan yang tertera di surat rekomendasi untuk juara umum pertama atas nama Saputra Dirgantara bebas biaya 1 tahun penuh.
 

  Setelah mendapatkan surat rekomendasi beasiswa yang menyebutkan tiga besar juara umum kelas 1. Pertanyaan-pertanyaan timbul dalam hati membuatku penasaran, Siapa Saputra Dirgantara? Dari kelas 1 apa? Aku tak pernah mengenal dia sebelumnya.
Rasa penasaranku tak sabar ingin segera masuk sekolah dan sesegera mungkin bisa tahu siapakah sang juara umum tersebut, libur panjang kenaikan kelas dan penerimaan siswa baru aku rasakan sangat lama. 

 Untuk mengisi libur panjang aku pinjam buku-buku pelajaran kelas 2 dari kakak kelas, kebetulan dia adalah tetangga kami untuk sekedar kubaca-baca dan pelajari jika ada yang tidak kumengerti walau ada rasa malu kudatangi rumahnya untuk bertanya perihal pelajarann yang tidak aku bisa tersebut.
Lembar kerja siswa pun aku coba untuk mengerjakan dan mencocokkan dengan kunci jawabannya.

*********  

 
 Cuaca pagi itu sangat cerah kicauan burung seakan menyambut kedatanganku lambaian daun-daun cemara yang berbaris di depan sekolah mengisaratkan kerinduannya pada seluruh siswa sekolah itu, hari ini aku sengaja datang lebih awal tak sabar rasanya untuk melihat pengumuman pembagian kelas.
Bukan penasaran aku masuk kelas mana namun lebih penasaran dengan sang juara umum itu siapa dan ia nanti masuk di kelas mana. Itu yang ada dalam pikiranku hingga aku rela duduk berlama-lama menunggu di depan papan pengumuman yang terlapisi oleh kaca bening.

  Hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang aku sangat rindu dengan sahabat-sahabatku Anie, Alya, Iin, Esya kami berpelukan satu sama lain, bercerita tentang libur panjang apa saja yang kami lakukan selama itu. Setelah menunggu lama dan para siswa sudah banyak yang berdatangan tiba waktunya pengumuman dipasang, banyak sudah siswa-siswi berkerumun berdesak-desakan. Tak ketinggalan aku dan sahabat-sahabatku membaur diantara mereka.
Kucari dengan teliti nama Saputra Dirgantara diantara deretan nama-nama dari seluruh siswa SMU Teladan.

“Yeees! Ini dia, Saputra Dirgantara ada di kelas 2-3.” 

Setelah kubertanya kepada sahabat-sahabatku mereka ada di kelas mana,  aku segera berpamit kepada mereka dengan alasan untuk mencari ruang kelasku dan memilih bangku begitu pula mereka langsung menuju kelas mereka masing-masing. Kelas satu aku hanya sekelas dengan Anie sedangkan Alya, Iin dan Esya mereka sekelas. Kini di kelas 2 mereka berempat berada di satu ruangan yang sama yaitu kelas 2-2. Sedangkan aku? Ah, tidak penting aku berada di kelas mana saat ini. Karena tak ingin berdesak-desakan terlalu lama ditengah kerumunan siswahanya untuk mencari namaku, aku bergegas pergi dari area pengumuman itu. Aku harus tahu dulu sang juara umum itu yang mana orangnya. Yang kutahu kini ia berada di ruang kelas 2-3.

 Baiklah! Aku segera mencari ruang kelas tersebut,  setelah kutemukan ruang kelas yang kucari maka pertama yang kulakukan adalah menunggu,  aku duduk di kursi taman persis di depan kelas 2-3.
Sudah banyak siswa-siswi berada di depan ruang kelas itu menunggu ruangan dibuka oleh penjaga sekolah. Hanya sebagian yang kukenal dari mereka yang sedang berlalu lalang namun aku berusaha untuk tersenyum menyapa mereka sambil kuperhatikan nama yang tertera di papan nama baju mereka belum kutemukan sosok yang kucari, ada beberapa teman sekelasku sewaktu kelas satu yang kukenal dan menyapaku, “Cha, kamu di kelas sini juga? Wah, kita sekelas lagi aku nanti duduk di belakangmu ya biar lancar lirikan berserinya.” Sambil tertawa lebar dia mengutarakan keinginannya untuk duduk di belakangku.
Lirikan berseri itu istilah popular dikelas kami untuk mencontek jawaban jika ada ulangan harian atau ujian smester. Aku hanya tersenyum tak menjawabnya.

 Penjaga sekolah membuka ruangan satu persatu tiba di depan ruang kelas 2-2 sang penjaga itu pun membuka sisa-siswi berhamburan masuk ke ruang kelas tersebut namun aku belum juga menemukan orang yang kucari. Suasana sekolah mulai hening karena hampir seluruh siswa telah memasuki kelasnya masing-masing.
Aku beranjak ingin meninggalkan tempat dudukku dan berniat kembali ke papan pengumuman untuk mencari namaku karena orang yang ku tunggu belum menampakkan batang hidungnya.

“Ah! Mungkin aku tadi salah lihat,” Batinku sambil berdiri hendak meninggalkan bangku yang kududuki.

   Belum sempat aku beranjak pergi sosok pria tinggi tegap berambut jabrik dan berpenampilan rapih tiba-tiba berjalan di depanku  membuyarkan semua isi kepalaku dan langsung menyita perhatian mataku tertuju pada papan nama yang menempel di seragam putih abu-abu “Saputra Dirgantara” ini orang yang kucari iya tidak salah lagi.

 “Jadi ini sang juara? Pantas saja dia menjadi  juara umum penampilannya saja rapih apalagi system belajarnya pasti sudah tertata dengan rapih,” bisikku dalam hati.

 Walau sudah sempat berpapasan dia tidak menyapaku pandangannya lurus ke ruang kelas dan terus melangkahkan kaki memasuki ruang kelas tersebut hingga aku tak melihatnya lagi.
Sontan saja aku berharap bisa sekelas dengannya dan bisa belajar bersamanya atau sekedar ingin tau strategi belajarnya agar aku bisa seperti dia atau bahkan bisa menggeser posisinya .

 Kulangkahkan kaki sedikit berlari menuju papan pengumuman untuk mencari namaku sambil kubaca  bismillah agar aku juga berada di ruang kelas yang sama dengan sang juara umum itu. Lama aku telusuru deretan nama dan akhirnya kutemukan juga namaku.

“Argggggggg….”
 Hembusan nafas dalam dan ku hempaskan dengan sedikit bertenaga.
“Yeees! Aku juga berada di ruang kelas 2-2. Bismillahirohmanirohim.” 

 Aku bersemangat memasuki ruang kelasku berlari dan berharap masih ada bangku di deretan paling depan. Iya,karena aku tidak suka duduk di bangu belakang yang sering terdengar brisik jika guru sedang menjelaskan mata pelajaran.
“Assalamu’alaikum,” Sapaku kepada teman-temman baruku ketika sampai di depan pintu kelas tersebut.
Hanya beberapa orang saja yang menjawab karena kebanyakan mereka masih gaduh memilih tempat duduk masing-masing dan sebagian lagi bersenda gurau.

 Kupandangi seisi ruangan kuamati satu persatu diantara mereka yang ada di dalam kelas itu. Kudapati sosok sang juara duduk dengan tenang di urutan bangku nomer 2 pinggir dekat jendela. Entah apa yang dibacanya ia terlihat focus menunduk wajah seolah sedang  membaca sebuah buku karena memang terdapat buku di depannya.
Aku masih tetap berdiri untuk mencari bangku, masih ada dua meja kosong, satu di depan tepat  papan tulis yang satu meja lagi urutan hampir di belakang.

 Aku  memilih bangku meja depan dan melangkah mendekat, kuletakkan tasku di laci meja yang masih kosong itu. Tak adakah yang mau duduk di sini? Aku masih tetap mengamati seisi ruanganku seolah sedang beradaptasi dengan lingkungan baru.
Selang tak berapa lama aku beradu pandang dengan siswa yang tadi fokus membaca, kulontarkan sebuah senyuman kepadanya seolah memngatakan salam kenal teman baruku tapi apa yang terjadi ia tak sedikitpun tersenyum dan membalasnya ia bahkan langsung menunduk kea rah bukunya.

“Sial..! Sombong bener tuh orang,” gerutuku dalalm hati.

 Ah sudahlah mungkin dia termasuk orang yang pendiam atau pemalu pikirku tak ambil pusing dengan sikapnyang tak mau membalas senyumku.

 
 “Hi, kamu sedang mencari tempat duduk dan belum dapatkah? Duduk sini saja dekatku kebetulan masih kosong nih?” tanyaku kepada siswi yang berdiri bingung memandangi suasana ruang kelas.

“Iya aku belum dapat tempat duduk, tapi kok di depan sih?” Terlihat dia celingukan mencari tempat selain ini.

“Ah! Semua sudah penuh, ya sudah aku duduk denganmu ya. Namaku Indri” sambungnya lagi seraya memperkenalkan namanya. 
“Echa,” jawabku singkat dan menarik bangku di sebelahku mempersilahkan dia duduk.

*****************  

 Struktur Pengurus Kelas…. 
Kegiatan yang wajib dilakukan pertama kali setelah kami menghuni kelas dan teman-teman baru. Iya, menyusun struktur kelas yang diadakan secara demokrasi kecil-kecilan oleh, dari dan untuk seluruh anggota kelas 2-2.
Dari pelaksanaan demokrasi tersebut terbentuklah struktur pengurus kelas. Saputra Dirgantara sebagai ketua kelas, Aku sebagai skretasris dan Indri sebagai bendahara.
Namun aku mengusulkan diri untuk bertukar posisi dengan Indri dengan alasan tulisanku jelek takut teman-teman tak bisa membacanya.
Padahal itu hanya akal-akalanku saja agar aku bisa menjadi bendahara. Karena keuntungan menjadi bendahara seperti pengalaman kelas satu yaitu Shinta ia selalu gratis LKS dari guru mata pelajaran yang bersangkuta.
Itulah sebabnya di kelas dua ini aku ingin menjadi bendahara, jika ada gratisan karena mengkoordinasi pembayaran LKS dari teman-teman itu artinya bisa memangkas pengeluaranku untuk biaya LKS selama satu tahun itulah yang ada dalam pikiranku mengapa aku ingin sekali menjadi bendahara tentu niat ini tak seorang pun tahu kusimpan rapat-rapat keadaan ekonomiku dari semuanya.

 Done! Semua setuju maka sejak saat itu pengurus kelas terbentuk dengan formasi yang baik terlebih memang tulisan Indri sangat bagus dan rapih itu terbukti absensi kelas dan hiasan-hiasan kelas dikerjakan dengan sangat sempurna.

 Yang membuat semangat aku di kelas dua ini yaitu sekelas dengan sang juara yang kini menjadi ketua kelas itu artinya aku bisa sering bersama dengannya baik berdiskusi untuk kebaikan kelas ataupun pelajaran. Posisi kepengurusan itu aku manfaatkan sebaik mungkinn untuk bisa mengenalnya terlebih aku ingin sekali tahu bagaimana cara belajarnya sehingga dia bisa menjadi sang juara.
 
   Sepulang sekolah kami ke pergi sebuah took untuk membeli perlengkapan yang dibutuhkan kelas. Di sepanjang jalan kami banyak berdiam satu sama lain dan kami merasa sangat canggung terlebih Saputra sangat pendiam dan pemalu aku seperti menghadapi manusia dari luar planet bumi tanpa bicara sepatah kata.

Aku berusaha untuk membuka percakapan, bagaimana mungkin jalan berdua tak ada yang saling bicara dan bertegur sapa? Aku harus membuang rasa malu untuk sekedar bertanya basa-basi kepadanya.

 “Eh, gimana pelajaran Matematika hari ini? Kamu paham gak?” tanyaku sekedar membuka obrolan saat perjalanan sepulang dari toko.  

“Paham.” Jawabnya singkat.
 Udah segitu jawabnya tak ada percakapan lain lagi kami terus berjalan di sepanjang jalan menuju sekolah tuk mengantar peralatan dan keperluan untuk melengkapi alat-alat di kelas hingga akhirnya kami kembali ke rumah masing-masing.

**************