Laman

Jumat, 04 September 2015

Air Mata Yang Tertahan


Malam ini aku gak semangat dan lesu walau kami ada acara di markas biasa kami kumpul bersama sahabat-sahabat.
Entahlah apa yang membuat hati ini kurang sreg.
Langit begitu cerah namun tidak untuk hatiku malam itu, aku kesel apa yang aku lakukan selalu salah di mata budheku. Apa yang aku kerjakan tidak pernah benar menurutnya.

“Win, kenapa sih si Echa murung aja? Kadang dia ceria, kadang tiba-tiba murung,” tanya Andri kepada Wina kekasihnya.

Wina salah satu sahabat yang dekat denganku, dia adek dari budheku tapi dia sangat baik padaku berkat dialah aku merasa memiliki seseorang berharga di lingkungan itu.
Wina yang cantik wajah dan hatinya membuatku bersemangat dan kuat menghadapi budheku yang lumayan judes.

Sedangkan Andri udah seperti kakakku sendiri, dia yang sering diam-diam memperhatikan raut wajahku, dia tau kapan aku sedih, kapan aku lagi senang.
Andri adalah pacarnya Wina. Mereka pasangan yang serasi di mataku, Wina cantik dan Andri pria yang tampan.

“Nggak tau tuh kenapa Echa murung aja, paling juga lagi mikirin PR sekolah. Biasa si kutu buku mah begitu kalau belum ngerjain PR,” Jawab Wina sekenanya.

“Hei… Tenggo. Rambut kriteng ora kanggo. Udah jelek murung aja napa kamu,” Sambil ngacak-acak rambut  Andri menggodaku.

“Ih, apaan sih.”
Aku ngibaskan tangan Andri dan meninggalkan mereka berdua.
Aku keluar dari markas dan duduk di luar seorang diri memandang langit dihiasi bintang-bintang indah malam itu.

“Ibu, andai saja engkau masih ada… Anakmu ini tak akan seperti saat ini. Ya Rabb, aku yakin skenariomu lebih indah. Engkau lebih sayang ibuku ketimbang kami keluarganya.”

Iya, setiap saat aku ingin bercerita kepada ibuku namun apalah daya ibu telah tiada. Aku hanya bisa berandai-andai dan berbicara sendiri dan akhirnya air mata ini tak bisa kubendung.

***

Teeet….Teeet
Bell tanda masuk kelas berbunyi, seluruh siswa-siswi MTsN.1 memasuki kelas masing-masing tak terkecuali dengan aku dan Wina.
Di sekolah aku banyak teman dan sahabat. Ada Fitri, Ayu, Fanny, Panti dan Riyati. Kami udah satu gang yang kompak dan solid dalam segala hal. Termasuk dalam hal nyontek… Ups, tapi tidak untukku ya. Aku gak pernah nyontek, bagiku mending dapat nilai 100 hasil kerjaan sendiri dari pada nilai 50 hasil nyontek mereka hahhaa.
Yang sering nyontek ke aku ya mereka-mereka itu terlebih Wina dan Fitri.

Hari itu jam pertama pelajaran Akidah Akhlak, gurunya Ibu Sholehati.

“Duh, pasti nanti suruh baca buku cetak, biasanya aku yang ditunjuk untuk baca” Gumamku dalam hati.
Musti siap-siap cari pinjaman buku, karena aku tidak pernah punya buku cetak. Jangankan buku cetak, buku tulis dan polpen pun aku  kekurangan.
Tapi buatku itu bukan kendala utama untuk bisa berprestasi di sekolah. Yang terpenting kita bisa menjalin pertemanan dengan baik di sekolah masalah kecil seperti itu bisa dengan mudah diatasi kalau bahasa sekarang mah “Modusin aja tuh teman-teman”  hahhaa.

Ah, ternyata pelajaran hari ini tidak disuruh membacakan buku cetak. Hanya saja menulis hadits-hadits tentang akhlakul karimah.
Sialnya polpenku tidak ada tintanya pinjem ke teman-teman sebelah bangku tidak ada, buku tulisku pun sudah habis tidak ada halaman kosong lagi. Ya sudahlah aku berpura-pura menulis agar Bu Sholehati tidak mengetahui tentang keadaanku yang sedang tidak punya polpen atau pun pensil.

Setelah selesai ibu itu menjelaskan disesi akhir pelajaran ia menyuruhku untuk membacakan tulisanku.

“Echa, coba kamu bacakan semuanya kepada teman-teman pelajaran kita hari ini,” perintah Bu Sholehati.

“Duh…. Ketahuan aku tidak menulisnya, mati aku,” Gumamku.

“Hmmmm, anu bu…. Maaf, hari ini aku tidak menulis pelajarannya,” Jawabku terbata-bata.

Ibu guru menghampiri mejaku, dan melihat buku tulisku yang memang sudah penuh tak ada lembaran kosong lagi. Ia membuka dan membolak-balik buku lecekku.

“Bukumu sudah tidak ada yang kosong dan kamu sering tidak menulis pelajaran yang ibu ajarkan, Cha. Mengapa, kamu tidak suka pelajaran Ibu?” Tanya nya dengan nada tinggi.

“Maaf bu, bukan begitu… Benar bu, saya suka dengan pelajaran ibu dan cara ibu mengajar. Tapi…” Aku tidak melanjutkan kata-kataku.
Mataku sudah berkaca-kata.

“Tapi kenapa?.... Nanti jam istirahat kamu ke ruangan ibu,” Lanjutnya.

“Baiklah anak-anak pelajaran hari ini kita cukupkan sampai di sini kita lanjutkan untuk pertemuan yang akan datang, selamat siang.”

***