Laman

Jumat, 16 Mei 2014

Aku Ingin Mencintaimu Layaknya Sebuah Gitar



Assalamu’alaikum
Bismillahirohmanirohim,


Gitar kau mampu memberikan nada-nana indah dalam kesunyianku, kau mampu membawaku melayang ke masa silam di mana pertama kali aku mengenalmu.
Pertama aku terpana oleh alunan irama yang kau hadirkan kala itu aku beranjak remaja, ingin aku memilikimu namun aku tak mampu membelinya.


~Biarlah Bulan Bicara By Broery Marantika~

Bulan sabi
Yang jatuh dipelataran
  
Bintang redup
Tanpa cahaya gemintang
   
Langkah tanpa arah
Sesat di jalan yang terang
           
Aku yang terlena
dibuai pelukan dosa


Ingin pulang
membalut luka hatimu
  
Ku pun tahu
betapa pedih batinmu
 
Beri kesempatan
atau jatuhkan hukuman
         
Andai maaf pun
tak kau berikan

             
Air mata tulus jatuh
di sudut bibir mu
   
Tak terlintas dendam
di bening mata indah mu
Aku yang merasa
sangat berdosa pada mu
 
Masih pantaskah
mendampingimu

Reff:
Biar lah bulan bicara sendiri
Biarlah bintang kan menjadi saksi
               
Tak kan ku ulangi
 walau sampai akhir nanti

Cukup derita sampai di sini

 

 “Tia ajari aku main gitar dong!” pintaku kepada sahabat.
Aku dan Tia bersahabat dia tetangga pamanku dan dia jago banget main gitar, pertama aku dengar dia menyanyikan lagunya Broery Marantika.
Aku pindahan dari kota Bengkulu dan sekolah di MTsN Pematang Panggang, OKI (Ogan Kompering Ilir)   

“Please. Ajari aku main gitar ya! Kunci dasar juga nggak apa-apa, Ntar yang lainya nyusul deh. Aku pingin banget bisa main gitar!” rengekku memelas.

“Cewek tuh, belajar masak aja… Jangan main gitar!” 

“Lah kamu juga cewek jago main gitar? Aku nggak hoby masak, panas bikin gosong di muka. Aku nggak suka lagian belum saatnya masak kok.”

Akhirnya dengan kesabarannya dia mengajariku bermain gitar. Dari mulai kunci dasar dan lagu-lagu yang menggunakan kunci sederhana.
Lambat laun aku mulai bisa memainkan gitar walau tidak sehebat Tia.
Bahagia banget bisa menyanyi dan petik gitar, lagu pertama yang aku bisa yaitu lagu Akhir Cinta yang dinyanyikan oleh Panbers, lagu jadul banget.

 Aku selalu membawa pulang gitar milik Tia, sepulang sekolah atau sepulang ngaji pasti yang kupegang pertama kali adalah gitar. Namun aku tak meninggalkan kewajibanku membantu bibi menyapu dan mencuci piring atau mencuci baju.
Lama-lama kebiasaaanku diketahui oleh pamanku, beliau kakak dari Almarhum ibuku.

“Kamu mau jadi preman? Gitaran aja kerjaanya. Bla…bla…bla. Kamu sekarang sudah menjadi tanggung jawab kami.” Tegur pamanku.

 Aku hanya diam dan berfikir apa salahnya main gitar? Bukankah pekerjaan rumah sudah aku selesaikan, sholat dan ngaji pun tidak aku tinggalkan apa lagi belajar, aku selalu bebas biaya sekolah karena prestasiku. Apa alasan paman tidak suka aku main gitar. Aku tak berani menjawabnya walau bagaimana pun kini mereka adalah pengganti orang tuaku, jadi apapun yang mereka katakana aku harus menurut. Walau terkadang kurasakan itu tidak adil.

 Ketika paman di rumah aku tidak pernah bermain gitar namun jika ia berangkat ke luar kota untuk  bekerja dan itu bisa berbulan-bulan lamanya maka aku pinjam gitar Tia, aku bawa pulang sehingga  bisa kumainkan sepuasku.

Hari itu kelasku pulang lebih awal. Aku mampir ke rumah Tia yang tidak jauh dari rumah pamanku dan kami bermain gitar sambil bernyayi ramai-ramai. Aku bahagia banget yang kutahu pamanku keluar kota belum pulang.
Ketika aku pulang dan masuk ke rumah ternyata pamanku berada di dalam rumah dengan mata merah melotot, seram sekali.

“Kamu!’’ Pamanku mengangkat tangannya mau menamparku.
Aku tangkap tangannya dan kupandangi wajah pamanku. Hampir saja wajahku kena tampar gara-gara gitar. Aku terdiam menunduk nangis dan kecewa.
Setelah kejadian itu lama aku tidak pernah memainkan gitar, dan hanya bisa bertanya-tanya apa alasan paman melarang keras aku bernyanyi sambil diiringi gitar?.

**************************************************************




 Sobat, setelah lulus MTs aku pindah dan tinggal di rumah kakek angkatku. Masih saudara tapi saudara jauh.
Tepatnya di Jepara Lampung – Timur. Di sini aku lebih bahagia, karena kakek tinggal sendirian, rumahnya kecil hanya ada kamarku, kamar kakek, ruang tamu dan dapur.
Kakek rajin memasak dan bersih-bersih.
Beliau tidak pernah mau aku bantu mencucikan bajunya, beliau sangat menyayangiku seperti cucunya sendiri.
Di sini aku bisa sekolah sambil bekerja dan hasil dari kerjaku aku bisa beli gitar serta keperluanku,  Anton yang juga cucu kakek dia jago main gitar dia salah satu personil band di sekolahnya. Rumah Antoh berdekatan dengan rumah kakek.  

Took…tok…tok!  Suara pintu kamarku diketuk  si mbah dari luar.
“ada apa mbah?” jawabku saat kubuka pintu.
“Kalau gitaran mbok ya lihat-lihat, mbah lagi sholat, wiridan ini loh.”  
“Iya… iya maaf mbah, aku nggak tau.  Lain kali aku main gitarnya di luar.” Kujawab Sambil nyegir.


Ujian Akhir Smester  sudah di depan mata, aku memilih belajar di tengah malam sepi, sunyi ketika kakeku sudah tidur. Karena sore beliau suka mendengarkan wayang kulit yang bahasanya tidak aku pahami.
Sore hari aku lebih suka bermain gitar sambil menikmati cahaya rembulan bersama teman-temanku dan juga Anton.

Tiba-tiba dari dalam rumah terdengar suara kakek.

“Rita.. masuk! Kamu nggak belajar? Bentak kakek.

“Aku belajarnya tengah malam mbah.” Aku coba menjelaskan.
Aku malu melihat kakek marah di depan teman-temanku, aku coba menjelaskan dengan nada yang rendah.
Namun kakek sepertinya emosi dan tidak mau mengerti lalu meraih gitarku.

Praaaak!.

Gitarku dibanting ke gapura depan rumah kakek hingga patah.  
Kemudian aku ambil gitar yang kubeli dengan jerih payahku dan kini telah patah itu, aku berlari masuk kamar.

Air mata dan rasa sedih terhadap apa yang terjadi barusan. Membawa aku ke dalam kerinduan pada orang tuaku.
Aku pun mulai sadar apa yang terjadi semua ini. Telah membuat semua orang yang pernah bersamaku menjadi marah, tapi mengapa mereka membuat aku sedih. Mungkin aku yang salah.
 
Sejak kejadian itu aku tak memiliki gitar dan lama sekali aku tidak pernah main gitar lagi hingga aku berada di Taiwan.
Ketika aku masuk kuliah dan memiliki account facebook ada seorang teman kuliah, Fitri aplod video bernyanyi sambil main gitar seketika itu aku merindukan saat remajaku.
Tahun 2012 atau 2013 aku pun membeli gitar dan mencoba memainkan, setiap kali kumainkan aku selalu terbayang wajah pamanku, wajah kakekku dan juga Anton yang kini mereka telah tiada.
Setiap kali aku melihat gitar aku teringat kejadian-kejadian itu.

Malam ini gitar kesayanganku aku  tawarkan melalui account facebookku dan langsung dibeli oleh temanku.
Taukah kalian sobat, aku ingin mencintaimu layaknya sebuah gitar yang mampu mengiringi  lagu. baik lagu suka maupun lagu duka dan indah iramanya bila dimainkan.

Taipei, 16 Mei 2014 (03:20 Am)








 














Selasa, 13 Mei 2014

1 Jam, Narsis Bareng Adik Leting...!

Seru-seruan yuuk, pasang muka Imute!.... Nggak ah, aku malu.
Ah, aku mau nge'pose muka imute gue!
Assalamu’alaium sahabat semua

Bismilahirohmanirohim,

Bahagia itu sangat sederhana salah satunya ketika kita bisa merajut indahnya silaturahmi, seperti yang pernah Rosul katakana dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari,
 "Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahim (dengan orang tua dan kerabat)."

 Jalinan silaturahmi Antara mahasiswa UT Taiwan yang hangat, seru  bareng mereka itu sesuatu banget ada rasa yang tumbuh dalam diri kita.
Ya, rasa persahabatan, persaudaraan yang tak ternilai harganya, luar biasa.
Dan rasa itu ingin ku selalu menjaganya hingga kita disatukan kembali di akhirat nanti, Aamiin.
 Akhirya ujian pun sudah terlewati waktunya narsis, kami meluncur ke museum yang berda di dekat taman 228.
Dengan suasana yang riang dan semangat juang kami berpose, lihat saja gaya kami sok imut.

Huh!
Padahal itu di jam istirahat dan akan menghadapi ujian masih aja sempat narsis. Ya, begitulah generasi masa kini. Bagaimana pun keadaannya, mau ujian belum selesai.

“Opo yo kami pikir? Yang penting narsis.”  

Ups… jangan salah sob, kita sudah punya bekal jauh-jauh hari dan kita juga punya system yang sangat ampuh apa coba? Itu loh system SKS. Ada yang tahu? Ok deh kalau tidak ada yang tahu, kami kasih tahu yaitu “Sistem Kebut Semalam” hehehe.

Wajah-wajah manis dan melepaskan penat sesaat sebelum kembali berjuang menyelesaikan ujian. Kami kembali berpose ala K-POP. 

“Yuk kita seru-seruan gaya alay,” ajakan suster cenil yang ada di sebelah kananku dan langsung aku ikuti begitu saja.

Tiba-tiba:
“Ayo buruan waktunya udah hampir telat, masih ada ujian 1 MK lagi kan?” Seru tutor pembimbing kami yang baik hati.

“Lain kali kita ke sini lagi ya!”

Sebenarnya aku sudah sering ke mari cuma kali ini lebih seru bareng mereka yang gokil-gokil. Sebentar-sebentar jepret hehehe.
Kebersamaan seperti ini lah yang tidak akan terlupakan dan menjadi lembaran kisah yang sulit terulang.
Dengan tergesa-gesa kami pun kembali ke ruang ujian yang masih ada 1 MK lagi yang belum selesai. 
“Sampai jumpa kawan! Memori ini terlalu manis untuk dilupakan.”


Taipei, 13 Mei 2014 
(00:30 Am)


Oleh: Rita Secha